Tuesday, December 18, 2012

Repost: Surabaya (1)


Surabaya (1) Jul 5, '08 2:12 PM. From Multiply. Tanggal 2 sampai dengan 9 Juli 2008 ini Surabaya menjadi tempat perhelatan akbar para dokter anak se Indonesia. Pada tanggal tersebut diselenggarakan 2 kongres yaitu ACPID (Asian Congress of Pediatric Infectious Diseases) tanggal 2-5 Juli dan KONIKA (Kongres Nasional Ilmu Kesehatan Anak) tanggal 5-9 Juli 2008. Jadi .. jika tanggal2 segitu anda kesulitan mencari dokter anak langganan anda .. ya maaf dehhh .. dokternya pada berterbangan ke Surabaya. Saya termasuk yang ikut terbang ke Surabaya. Tapi tidak memungkinkan bagi saya untuk meninggalkan RS sampai 8 hari .. maklum .. paling junior, harus jaga gawang (gak mungkin kaann RS dibiarkan kosong tanpa ada dokter). Jadi, diaturlah bahwa kami junior (3 orang) harus stay selama KONIKA, namun karena peminat ACPID tidak banyak, kami boleh pergi ke ACPID. Jadi, saya dan mbak Ina memutuskan untuk pergi ACPID, sementara Rifan lebih senang tinggal di Jakarta mendapatkan rejeki nomplok limpahan pasien2 teman yang lain :-) Rencana pergi ke Surabaya sudah dibuat jauh-jauh hari. Pendaftaran dilakukan online .. biaya ditransfer pake ATM, bukti ATM difax ke panitia, panitia kemudian mengirimkan bukti registrasi by email. Simple dan mudah. Pemesanan kamar hotel juga dilakukan online lewat panitia. Saya dan Mbak Ina sepakat berbagi kamar supaya lebih murah (lagian .. mana berani kita tidur sendiri-sendiri, hehehe). Tinggal satu lagi masalah. Transportasi. Akhirnya setelah browsing sana-sini, kami memutuskan untuk naik Merpati. Pertimbangannya .. Merpati lebih murah dari Garuda, namun mutunya lumayan lah dibanding merk2 maskapai yang gak dikenal lainnya. Jadi .. kami segera menelfon layanan reservasi Merpati, memesan tiket pesawat PP Jkt-Sby-Jkt. Karena menelfon jauh2 hari (empat bulan dari rencana keberangkatan), maka masih banyak seat yang tersedia. Tidak lupa menanyakan promo yang sedang berlangsung. Wahh .. gak dinyana gak dikira .. akhirnya saya bisa mendapatkan promo tiket Merpati Jkt-Sby PP seharga Ro 500ribuan. Harga tiket aslinya sekali jalan adalah sekitar 600ribuan. Tapiii .. syarat dari tiket murah itu adalah tidak bisa di-refund, cancel, pindah jadwal, dlsb. Artinya, kalo gak bisa terbang ya hangus. Lagian, memesan tiket seperti ini ada syaratnya: tiket harus dibayar dan diambil dalam waktu 2 jam.Waaa .. jadilah saya terbirit2 mengambil uang ke ATM, minta tolong sekretaris bagian untuk pergi ke kantor Merpati di Jl Angkasa menggunakan motor (wah, kalo pake mobil gak bisa nyampe 2 jam). Walaupun heboh .. tapi akhirnya tiket sudah di tangan. Teman2 lain yang mulanya santai2 belum memesan tiket pesawat ..jadi ikut-ikutan. Ada teman yang beberapa hari kemudian ikut memesan tiket promo .. ternyata harganya sudah naik jadi 600ribu PP. Wah. Akhirnya, berangkatlah saya ke Surabaya. Jadwal pesawat berubah-ubah .. dari jadwal semula pukul 16.30, bulan Mei dimajukan jadi pukul 14.10. Pagi-pagi sebelum berangkat, saya telfon kembali Merpati, ternyata diinformasikan bahwa hari ini pesawat di-reschedule menjadi pukul 17.10. Yaaahhh .. mundur lagi deh. Tapi kami memutuskan untuk menunggu di RS dan baru berangkat pukul 15 ke airport. Sampai di airport saat check in .. ternyata petugas merpati menginformasikan lagi pesawat didelay sampai jam 19.10. Haduuuhhh .. menyebalkan. Jadilah saya musti menunggu 4 jam di airport (kalo nunggu di Changi mungkin enak ya? ). Akhirnya, jam 19.00 boarding .. masuk pesawat. Di pesawat ada insiden yang tak kalah hebohnya. Ada rombongan keluarga yang terbang ke Surabaya membawa seorang kakek dengan kursi roda dan .. parahnya .. membawa tabung oksigen yang kecil/portable ke dalam pesawat!! Kakek tersebut ternyata penderita kanker paru yang baru berobat ke Jakarta, dan karena sudah tidak bisa disembuhkan lagi dibawa pulang ke Surabaya. Karena itu kakek tersebut perlu oksigen supaya tidak sesak. Setau saya .. oksigen portable seperti itu tidak boleh dibawa masuk ke dalam pesawat. Saya jadi ingat pengalaman saya membawa ayah (bapak) saya ke Singapore karena stroke dan pneumonia. Saat itu saya menggunakan Garuda, dan peraturan Garuda tidak membolehkan saya membawa oksigen, namun bila diperlukan, dapat menggunakan tabung oksigen dari pesawat. Mbak Ina juga mengamini .. bahwa tabung oksigen dapat meledak apalagi ada perbedaan tekanan udara saat terbang nanti (CMIIW yaa). Namun karena keluarganya keukeuh membawa oksigen dan pramugari tidak bisa melarangnya.. akhirnya tabung oksigen itu tetap dibawa naik pesawat. Sepanjang perjalanan kami yang duduk di sekitar tabung itu menjadi gelisah. Mbak Ina malah menganjurkan tabungnya ditutup saja, toh kakek itu tidak tampak sesak dan saat ditanya juga bilang ia tidak sesak. Alhamdulillah .. lain-lainnya berjalan lancar. Sampai di Surabaya jam 21 malam .. check in di hotel .. dan tidur.

No comments:

Post a Comment