Sang Caleg Nov 23, '08 8:59 PM. From Multiply.
Di sela-sela kisah menyedihkan tentang pasien-pasien saya, ada juga kisah lucunya. Bukan lucu sebenernya, malah mengenaskan. Salah satu pasien saya, ibunya sudah meninggal. Jadi anak usia 2 tahun ini jika datang selalu diantar oleh neneknya. Untuk pemeriksaan darah berkala, si nenek selalu menunda meski akhirnya bulan berikutnya dilakukan juga. Rupanya nenek itu harus minta uang dulu ke anak pertamanya (pakdenya si pasien) untuk berobat. Spontan saya tanya, memangnya ayah si anak ini kemana bu? Wahh, tak dinyana tak dikira, langsung keluarkah curahan hati (anak sekarang bilang: curhat colongan) si nenek. Dia bercerita bahwa di ayah pasien ini dulunya pengguna narkoba, sekarang memang sudah berhenti. Lalu dia tidak punya pekerjaan alias pengangguran, sehingga biaya berobat harus dibantu kakaknya. Dan sekarang si ayah ini sedang menjadi Caleg di salah satu kabupaten di Jawa Barat. Lhooo? Saya spontan terheran-heran. Bukannya kalau mau jadi caleg itu butuh uang banyak? Ibu itu melanjutkan curhatannya. Si ayah ini berhutang sana-sini sampai belasan juta rupiah demi bisa menjadi caleg. Dan tidak jarang, menggelapkan uang ibunya: disuruh membeli obat dengan uang dari si pakde, malah tidak dibelikan obat. Waduuuhh, entah janji-janji apa yang diberikan oleh partainya sehingga si ayah ini ngotot untuk menjadi caleg. Dengan menghalalkan semua cara. Berhutang sana-sini dan menipu sana-sini. Trus, bisa dibayangkan dong apa jadinya kalau nanti dia terpilih? Korupsi? Ahh, saya tidak mau membayangkannya.
Kenapa ya orang berlomba2 untuk menjadi caleg? Apakah jadi anggota DPR/DPRD itu mata pencaharian yang menggiurkan? Lalu, bagaimana bisa memperjuangkan rakyat jika untuk dirinya sendiri masih dalam kesulitan keuangan akibat berhutang saat menjadi caleg. Ahhh, gak berani membayangkan lebih jauh lagi :-(
No comments:
Post a Comment