Tuesday, December 18, 2012

High risk job (2)


High risk job (2) Oct 20, '08 9:07 AM. From Multiply. Sekarang, giliran risiko buat dokternya sendiri. Maksudnya, pasiennya yang membahayakan dokter. Sebagai dokter anak, tiap hari saya berhadapan dengan anak yang batuk-pilek. Anak kecil kan gak bisa diatur, tengah saya sibuk memeriksa mulutnya, tiba-tiba ..uhuk-uhuk, wahhh, anak itu batuk tepat ke muka saya. Dan saya orang yang malas memakai masker kecuali kalau sayanya yang lagi sakit. Jadi, segala macam virus berterbangan setiap hari di rumah sakit maupun tempat praktek saya. Kalau giliran saya yang sakit, para orangtua pasien seakan-akan memandangi saya sambil mencela: dokter kok bisa sakit, gimana mau bikin sembuh orang? Hihihi .. Saya dan teman-teman suka membandingkan hasil pemeriksaan antibodi yang rutin diperiksa kalau kita hamil. Waktu hamil anak pertama, antibodi rubella saya negatif, ternyata waktu hamil anak kedua hasilnya positif. Wah, kapan saya sakitnya ya? Kalau cuma sekedar ketularan virus batuk-pilek sih, keciiiil. Tapi kalau tertular virus HIV atau Hepatitis C? Ada satu-dua kasus teman yang tertusuk jarum setelah mengambil darah penderita HIV. Protokol untuk kecelakaan kerja seperti itu ada sih, tapi apa gak senewen bin stress, harus minum obat pencegahan selama beberapa minggu dan menanti saat pemeriksaan darah untuk menentukan nasib: tertular atau tidak?. Kasus yang lebih banyak terjadi, para penderita AIDS, khawatir dengan stigma yang ditimpakan pada mereka, menutupi penyakitnya dan tidak memberitahu dokternya bahwa sebenarnya mereka terinfeksi HIV. Jadi, berapa banyak kemungkinan tenaga medis yang karena ceroboh ataupun accident tertusuk jarum dan tidak ditangani dengan baik akibat tidak diketahuinya status HIV pasien? Jadi, kalau seperti ini, masihkah jadi dokter itu enak? Hihihi ..tanyakan saja pada rumput yang bergoyang.

No comments:

Post a Comment