Hati yang mati Oct 2, '08 10:35 AM. From Multiply.
Kemarin, tepat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1429H, saya dan keluarga serta ibu menjalankan sholat Ied di Mesjid Istiqomah Bandung. Keluarga kami memang terbiasa sholat Ied di mesjid itu, terlebih karena sekarang letaknya sangat dekat dari rumah Ibu.
Imam dan khatib kemarin adalah Bapak Aam Amirudin. Saya yakin banyak di antara kita yang mengenal nama Pak Aam. Topik khutbah kemarin adalah tentang qalbu atau hati. Pak Aam menyatakan bahwa, meskipun manusia memiliki penampilan fisik yang berbeda-beda, ataupun memiliki tingkat intelektual yang berbeda, tapi memiliki hati yang sama. Hati manusia pada dasarnya berada dalam tiga kondisi: hati yang mati, hati yang sakit, dan hati yang sehat. Hati yang mati memiliki ciri-ciri tidak bergeming jika diberi nasihat atau peringatan. Orang dengan hati seperti ini hanya bisa didoakan terus, atau diikhtiarkan terus (sampai dia yang duluan meninggal atau kita yang lebih dulu meninggal). Sementara orang yang memiliki hati yang sakit, susah di beri nasihat,tidak merasakan nikmat saat shalat (shalat hanya sekedar menunaikan kewajiban?). Sementara orang yang hatinya sehat, salah satu cirinya adalah selalu rindu pada Allah. Kerinduan pada Allah itu diobati dengan berkomunikasi lewat shalat dan doa. Karena itu, orang yang hatinya sehat senantiasa merasakan kenikmatan saat shalat atau berdoa, seperti curhat kepada Allah.
Pak Aam dapat menyampaikan khutbahnya dengan sangat menarik. Khutbah Idul Fitri yang biasanya membuat saya terkantuk-kantuk, kali ini bisa saya simak dari awal sampai akhir, meskipun di sekitar saya banyak anak kecil yang menangis ataupun orang yang mengobrol. Anak saya yang kecil juga alhamdulillah bisa tenang selama mendengarkan khutbah, malah saat shalat dia ikut menirukan gerakan-gerakan shalat dari awal sampai akhir. Yang kocak sekaligus membuat saya terharu, anak saya yang besar, saat pulang berkata: ibu, doakan aku terus ya, karena hatiku sudah mati. Subhanallah, anak umur 8 tahun sudah bisa menyimak khutbah Idul Fitri dan meresapkannya. Mungkin dia merasa selama ini sering membantah jika dinasihati, dan malah kadang-kadang sengaja melawan perkataan saya. Buat dia, hal seperti itu sesuai dengan ciri-ciri hati yang mati yang dia dengar dari khutbah. Hehehe, mudah-mudahan anak-anak saya senantiasa terbuka hatinya seperti ini, dan menjadi anak-anak yang sholeh. Amin yaa rabbal alamin.
No comments:
Post a Comment