Tuesday, December 18, 2012

Repost: Anak yang terimbas ... (2)


Anak yang terimbas ... (2) Sep 6, '08 1:07 AM Masih tentang anak penderita HIV/AIDS. Minggu ini saya baru kehilangan seorang pasien AIDS. Anak ini usianya 3 tahun, perempuan. Diadopsi oleh orangtua angkatnya sejak dia lahir. Orangtua kandungnya entah dimana. Sejak usia 1,5 tahun, mulailah anak ini sakit-sakitan. Batuk-pilek-demam berulang. Pneumonia (radang paru) berulang. Pertumbuhan dan perkembangan terhambat. Hatinya membesar. Pemeriksaan darah menunjukkan anemia dan trombosit yang rendah. Setelah dikonsul sana konsul sini, akhirnya dicurigailah menderita HIV/AIDS, dan dioperlah ke saya. Sudah dikonfirmasi, anak ini positif HIV/AIDS, dengan tingkat kekebalan tubuh yang sangat rendah. Menderita TBC paru juga, sehingga diobati dulu supaya kondisinya stabil, baru saya rencanakan untuk mendapat obat HIV. Ternyata .. kedua orangtua angkat berikut nenek kakek angkatnya bimbang. Cukup syok tentu, karena anak angkat mereka ternyata mengidap penyakit yang berat. Mereka sempat bertanya2, akankah mereka tertular dari anak ini. Pertanyaan standar para pengasuh anak HIV deh. Saya jelaskan berulang-ulang, supaya mereka tidak ragu untuk terus mengurus anak ini. Namun, anak ini lost of follow up cukup lama, hampir 6 bulan. Sesekali saya SMS ortunya, menanyakan kondisi anaknya. Mereka cuma menjawab baik-baik saja. Sampai sekitar satu bulan yang lalu, ortunya menelfon saya, minta janji untuk bertemu. Saat bertemu, anaknya sudah bertambah kurus, pucat. Hasil pemeriksaan kekebalan tubuhnya masih sangat rendah. Kedua ortunya memutuskan untuk memulai pengobatan HIV. Sebelumnya mereka sempat ragu-ragu, setelah saya diskusikan panjang lebar efek dan manfaatnya. OK, akhirnya obat dimulai. Dua minggu pertama, pasien itu datang untuk kontrol. Sangat pucat. Hb cuma 5, padahal sudah menggunakan obat yang tidak ada efek samping anemia-nya. Langsung saya suruh rawat. Kedua ortunya menolak. Sudah tidak ada biaya dok, begitu kata mereka. Duhh .. miris rasanya. Saya menawarkan berbagai alternatif pilihan, seperti mengurus SKTM (surat keterangan tidak mampu) atau kartu jamkesmas (ini kartu istilahnya ganti-ganti terus, dari mulai kartu sehat, kartu miskin, kartu gakin, kartu askeskin, dan yang terakhir jamkesmas. Buset dahhh ..). Kayaknya gak bisa. Dari penampilan maupun dari survei, pasti permintaan itu ditolak. Keluarga ini kayaknya cukup lumayan, dalam arti bisa mencukupi hidup sehari-hari, punya rumah sendiri, kedua orangtuanya bekerja. Tapi kalau untuk rawat inap, yang bisa menghabiskan uang jutaan untuk obat, pemeriksaan lab dll, ya mungkin gak punya. Dan saya punya pikiran jahat .. mungkin kah karena anak ini anak angkat ? Ah .. mudah2an bukan. Maaf kalo saya berprasangka seperti itu. Pilihan lain adalah hanya mentransfusi saja anak itu, supaya anemianya yang cukup berat itu tidak membahayakan nyawanya. Tetap ditolak. Akhirnya .. anak itu pulang. Dua minggu berikutnya, ortunya menelfon saya lagi, obat sudah mau habis. Saat bertemu dengan mereka, ortunya bercerita anaknya mulai diare, namun sudah dibawa berobat dan sudah membaik. Syukur deh .. (meski tetap saya anjurkan rawat dan tetap saja mereka menolak). Minggu depannya, ortunya menelfon lagi, anaknya diarenya timbul lagi. Saat mereka membawa anak itu, duhhh .. dia sudah lemah sekali. Saya minta rawat .. namun jawaban tetap sama. Ya sudah, saya hanya bisa memberikan resep. Tiga hari kemudian, ortunya menelfon, masih diare. Saya hanya bisa menyarankan untuk memeriksakan tinjanya dan membawa anaknya untuk dirawat (you know the answer lahh). Kemudian, dua hari lalu, ayah anak itu menelfon. Dok, anak saya sudah sesak. Tampaknya tidak tertolong. Duhhhh .. sekali lagi saya anjurkan untuk membawa anak itu ke RS. Tapi, sejam kemudian, datanglah SMS: telah berpulang anak kami tercinta .. (asli, saya meneteskan air mata saat membaca SMS itu .. anak ini lahir dan ditinggalkan oleh orangtua kandungnya, menderita penyakit yang cukup berat, dan akhirnya meninggal tanpa sempat mendapat perawatan yang layak). Tempat mu pastilah di surga ..

No comments:

Post a Comment