Tuesday, December 18, 2012

Repost: Sakit: mengapa berbeda?


Sakit: mengapa berbeda? Jun 3, '08 11:11 AM. From Multiply. Re-writen .. meski jadinya beda karena atmosfirnya udah beda .. hiks .. gara2 gaptek .. Akibat profesi, saya harus menghadapi orang sakit setiap hari. Dari sakit yang ringan, sakit berat .. sampai yang meninggal. Pengalaman pertama saya menghadapi pasien meninggal adalah saat saya jaga pertama kali waktu ko-ass dulu di RSHS. Saat itu saya jaga di IGD. Seorang laki-laki dewasa mengalami gagal jantung. Kematiannya membuat saya termenung cukup lama. Pertama kali jaga .. pertama kali pula menghadapi pasien meninggal. Apalagi melihat tangisan keluarga yang ditinggalkan. Duhh .. As time goes by .. saya menjadi terbiasa, tidak lagi melibatkan emosi dalam menghadapi pasien. Tapi saat lulus .. saya sempat bertekad untuk tidak bekerja di rumah sakit lagi. Saya tidak tahan dengan suasananya yang suram, sedih, penuh tangisan keluarga yang ditinggal mati .. bikin depresi lah. Tapi panggilan hati ternyata berkata lain. Akhirnya saya kembali bekerja di RS .. sampai detik ini. Kembali saya menghadapi pasien yang sakit, tapi bedanya kali ini yang saya hadapi anak-anak. Awalnya lebih sulit, karena setiap saya melihat anak yang terbaring sakit, saya pasti ingat anak-anak saya di rumah. Tapi lama-kelamaan kembali terbiasa. Terbiasa melakukan tindakan pada anak yang menangis menjerit-jerit karena ketakutan atau kesakitan .. terbiasa menyampaikan berita buruk pada orangtua dari anak yang menderita sakit berat .. bahkan terbiasa menghadapi anak yang menghadapi kematiannya. Tapi jika menghadapi kerabat atau teman sendiri yang sedang sakit .. ternyata bisa beda. Saya masih belum bisa terbiasa mendengar berita teman yang saya kenal baik saat sehat dan kemudian menjadi sakit .. apalagi jika sakitnya cukup parah. Seperti saat kemarin saya menerima SMS yang mengabarkan seorang teman kuliah sedang dirawat karena penyakit sirosis hati, atau bulan lalu saat seorang teman kuliah menjalani operasi pengangkatan kanker, atau tahun lalu saat sepupu saya harus merelakan kepergian anaknya setelah berjuang dengan hidrosefalus selama 1,5 tahun. Emosi saya kembali muncul .. menyebabkan kebuntuan pikiran saya. Tapi banyak orang bilang .. sakit berat adalah salah satu bentuk ujian dari Allah. Seperti saat menengok kerabat yang sakit kanker laring pada usianya yang 40an weekend kemarin, seorang ustadz kebetulan datang dan memberikan pencerahan: Bapak sedang disayang oleh Allah .. diberikan ujian yang jika lulus dalam keadaan selalu bersyukur pada Allah .. Insya Allah akan menjadi jalan untuk menuju surga. Atau seperti perkataan seorang teman yang suaminya meninggal akibat kanker getah bening: Cobaan itu cuma bukti kecil kasih sayang Allah pada kita.. Dan Allah sesuai prasangka kita padanya...jadi cuma Dia tempat meminta. Subhanallah. And last but not the least: Al-Mu'minuun 62: On no soul do We place a burden greater than it can bear

No comments:

Post a Comment