Maid of the mist Nov 2, '08 7:45 PM. From Multiply.
Bukan karena pernah naik kapal ini once upon a time, tapi saya posting tentang musibah yang saya alami dua hari yang lalu.
Sudah sering saya ganti-ganti pembantu. Hampir tiap tahun pembantu baru deh. Duluuu, saya dapet pembantu yang cukup lama, sampai anak saya usia 3 tahun. Ada juga yang dua tahun. Tapi sebagian besar paling lama bertahan 1-3 bulanan. Masalahnya, mungkin ...kedua anak saya yang sulit diatur. Mana bisa pembantu santai-santai nonton telenovela kalau setiap saat sibuk mencari-cari barang atau mainan yang anak-anak mau. Atau karena anak saya yang kecil lagi masuk fase susah makan. Atau karena anak saya yang besar pemarah. Atau karena kedua anak laki-laki itu hobinya berantem. Atau mungkin karena saya cerewet? Rasanya sih tidak ..saya cerewet hanya pada pagi hari saat heboh membangunkan, menyuruh mandi dan menyuruh mereka makan. Siang, sore, malam hampir tidak pernah cerewet karena komunikasi hanya per telfon. Masalah gaji? Kalau mau membandingkan dengan pembantu ibu ataupun kakak-kakak saya yang tinggal di Jakarta, gaji para pembantu saya lebih tinggi. Karena saya tinggal di kompleks yang para pembantunya suka saling kumpul dan membandingkan ..jadi harus ngasi gaji sesuai standar kalau gak mau pembantu kita dibajak orang. Beban pekerjaan sebenarnya gak terlalu berat. Untuk mengurus dua anak di (dulu) apartemen sempit tanpa halaman saya mempekerjakan dua pembantu. Setelah pindah rumah, saya tambah pembantu laki-laki untuk mengurus halaman dan binatang.
Saya hampir tidak pernah menetapkan standar yang tinggi untuk pembantu. Mau bisa masak/tidak, bisa kerja/tidak, yang penting mau mengurus anak-anak dan jujur. Tidak pernah saya mengeluarkan pembantu, kebanyakan mereka yang minta keluar sendiri. Biasanya moment lebaran itu yang jadi alasan pembantu keluar dan saya cari pembantu baru.
Pembantu saya yang sekarang yang satu namanya Ratih - asal namanya Ratiyem. Orangnya jutek, egois, masaknya so-so deh. Dia saya tugaskan untuk masak. Sudah kerja dengan saya sekitar setahun. Lebaran kemarin dia pulang dan balik lagi. Pembantu satunya namanya Trisa. Dia bisa mengajak main anak-anak karena itu saya tugaskan mengurus anak-anak. Pekerjaan lain dibagi dua di antara mereka. Trisa ini pemalas, cengeng, pelupa. Sudah enam bulan bekerja, dan saya pertahankan karena dia bisa mengajak main anak-anak. Tapi antara kedua pembantu ini kerjanya ribuuuuttt terus. Ratih merasa Trisa kerjanya tidak benar, sementara Trisa merasa Ratih kerjanya cuma nyuruh-nyuruh dia saja - maklum usia Ratih lebih tua dari Trisa. Pas lebaran kemarin keduanya asalnya tidak mau balik - tapi suami saya berhasil membujuk mereka. Saya sebenarnya merasa senang kalau mereka tidak balik, tapi suami berpendapat lebih baik dengan pembantu lama supaya tidak usah mengajari lagi dari awal. Akhirnya saya setuju. Keputusan yang saya sesali sekarang.
Keduanya akhirnya balik lagi. Saya jarang melihat mereka bertengkar, saya pikir masalah beres. Akhir bulan Oktober kemarin, hari Jumat siang Trisa menelfon saya, minta ijin untuk pergi sebentar ke Cilandak. Saya ijinkan karena janjinya sebentar, sore sudah pulang. Toh saya juga pulang cepat, jadi urusan anak-anak bisa saya handle. Ternyata sampai rumah, Ratih tanya, Trisa itu nginep ya bu? Saya mulai curiga, ahh ..mungkin anak itu bandel, malah mau nginep padahal janjinya tidak. Besok saya marahi deh, begitu rencana saya. Ternyata, sampai keesokan paginya Trisa tidak pulang. Suami saya yang kebetulan mau ambil uang dari lacinya lah yang pertama menyadari musibah yang kami alami. Ternyata Trisa pergi dengan mengambil uang beberapa ratus ribu rupiah, HP dan game anak saya, serta cincin saya. Aduuuhh ..lemas rasanya. Blessing in disguise, notebook dan perhiasan saya lainnya (karena gak pernah saya pakai jadi saya simpan di tempat tersembunyi) tidak diambil. Saya memang teledor, menyimpan cincin di laci meja rias saya. Saya pikir, toh dari dulu juga tempatnya di situ tidak ada masalah. Saya belum mengecek baju-baju saya - masih berantakan setelah pindahan karena belum ada lemarinya.
Marah? Jelas. Jengkellll rasanya. Tapi apa mau dikata. Mudah-mudahan bisa jadi pelajaran supaya lebih waspada. Problem sekarang ..saya harus cari lagi pembantu :-(
No comments:
Post a Comment