Lingkar pinggang .... Jun 8, '08 2:06 AM. From Multiply.
Terinspirasi dari usaha orang lain (dan saya? hehehe) untuk langsing dengan berbagai cara .. saya jadi ingat lingkar pinggang saya. Wah .. berapa ya lingkar pinggang saya ? Udah lama gak pernah mengukur .. tapi saya yakin seyakin-yakinnya lingkar pinggang saya gak mengecil .. cenderung melaaarrr. Duh. Langsung saya cari meteran (biasanya saya pake untuk mengukur lingkar kepala anak, hehe), saya lingkarkan di pinggang, dan saya baca: X cm (hahaha .. rahasia atuh .. lingkar pinggang kan termasuk ukuran yang tidak boleh dipublish selain kepada penjahit baju). Yang jelas, sudah warning sign euy. Bukan lampu kuning lagi .. tapi lampu merah!!!
Kenapa sih saya ribut2 dengan ukuran lingkar pinggang? Apa gak cukup pusing dengan timbangan berat badan saja ? Lingkar pinggang mencerminkan seberapa banyak lemak yang menumpuk di tubuh kita. Berat badan, belum tentu mencerminkan lemak, karena bisa juga berat badan dipengaruhi oleh massa otot dan tulang. Jadi atlit2 yang berotot six-pack (huhuyyy) mungkin beratnya bisa sama dengan berat ibu-ibu yang kelebihan lemak.
Lalu, apa bahayanya lingkar pinggang yang berlebih? Ternyata, lingkar pinggang yang berlebih dapat mengindikasikan adanya sindrom metabolik (metabolic syndrome).
Sindrom metabolik memiliki ciri-ciri adanya sekelompok faktor risiko metabolik pada seseorang. Hal ini meliputi:
Obesitas pada perut (berlebihnya jaringan lemak pada dan sekitar perut)
Atherogenic dyslipidemia (gangguan pada lemak darah – trigliserid yang tinggi, kolesterol HDL yang rendah dan kolesterol LDL yang tinggi – yang mempercepat penumpukan plak pada dinding pembuluh darah arteri)
Peningkatan tekanan darah
Resistensi insulin atau intoleransi glukosa (tubuh tidak dapat menggunakan insulin atau gula darah secara tepat/sesuai)
Kondisi protrombotik (misalnya fibrinogen atau plasminogen activator inhibitor-1 yang tinggi di dalam darah)
Kondisi proinflamatori (misalnya peningkatan C-reactive protein dalam darah)
Orang dengan sindrom metabolic memiliki risiko yang lebih tinggi untuk terjadinya penyakit jantung koroner dan penyakit lain yang berhubungan dengan penumpukan plak di dinding arteri (misalnya stroke dan penyakit pembuluh darah tepi – peripheral vascular disease) dan diabetes tipe 2.
Bagaimanakah mendiagnosis sindrom metabolik? Kriteria menurut The American Heart Association dan the National Heart, Lung, and Blood Institute merekomendasikan bahwa sindrom metabolik diidentifikasi dari adanya tiga atau lebih komponen berikut:
Peningkatan lingkar perut: laki-laki sama atau lebih besar dari 102 cm, perempuan sama atau lebih besar dari 88 cm
Peningkatan trigliserid: sama atau lebh besar dari 150 mg/dL
Berkurangnya kolesterol baik (HDL): laki-laki kurang dari 40 mg/dL, perempuan kurang dari 50 mg/dL
Peningkatan tekanan darah: sama atau lebih dari 130/85 mmHg
Peningkatan gula darah puasa: sama atau lebih dari 100 mg/dL
Nah .. jadi, coba kita ukur ulang lingkar perut kita, lalu lihat hasil laboratorium saat medical check up terakhir. Apakah sudah bisa dimasukkan ke dalam sindrom metabolik?
Trus .. kalo sudah masuk ke sindrom metabolik, apa yang harus dilakukan? Tujuan utama yang perlu ditargetkan jika kita memiliki sindrom metabolik adalah menurunkan risiko penyakit kardiovaskular dan diabetes tipe 2. Jadi, yang harus dilakukan adalah: stop merokok dan turunkan kolesterol LDL, tekanan darah dan kadar gula darah sampai mencapai batas yang direkomendasikan. Untuk itu, intervensi terpenting adalah pada lifestyle. Intervensi lifestyle meliputi:
Penurunan berat badan untuk mencapai berat yang ideal (BMI kurang dari 25 kg/m2)
Meningkatkan aktivitas fisik, sedikitnya 30 menit aktivitas dengan intensitas sedang pada hampir setiap hari (dan bukan cuma sekali seminggu saat weekend, hehehe)
Pola makan yang sehat yang meliputi mengurangi asupan lemak jenuh, lemak trans, dan kolesterol.
Jadi .. kesimpulannya: kurangi pemakaian mobil (yang mau bike to work silakannn … sangat ideal sekali, atau turun satu halte dari yang seharusnya, dilanjutkan jalan kaki), dan setelah aktivitas fisik jangan langsung balas dendam dengan makan lontong kari dengan kuah santan yang kental .. hahaha .. mendingan jadi orang Sunda aja deh .. makan lalapan sepanci juga aman, asal gak dsertai jeroan sebagai lauknya J Hm .. jadi lapar. Lho .. ?
No comments:
Post a Comment