High risk job Oct 20, '08 4:51 AM. From Multiply.
Apa sih pekerjaan yang paling berisiko? Penerbang pesawat tempur? Atlit terbang layang? Pendaki gunung es? Menurut saya, dokter adalah pekerjaan yang paling berisiko. Ya risiko pada konsumen alias pasien, ya risiko pada provider alias dokternya itu sendiri. Kali ini saya membicarakan risiko pada pasien.
Sudah sering kita dengar ada tuntutan malpraktik. Sebenarnya sebagian besar kasus malpraktik itu bukan malpraktik dalam arti sebenarnya. Tuntutan biasanya terjadi karena pasien meninggal, pasien bertambah parah, atau pasien mengeluarkan uang yang banyak. Bukan karena dokternya lalai, tapi karena dokternya tidak berkomunikasi dengan baik pada pasien atau keluarganya. Sangat sering terjadi, keluarga tidak bisa bertemu dokter, kalaupun bertemu dokternya hanya sedikit bicara, atau dokter bersikap meremehkan dan menganggap pasien itu bodoh. Hasilnya tentu pasien menjadi tidak puas. Orang yang tidak puas tentu sangat mudah menuntut - apalagi kalau ternyata sang pasien sakitnya tidak sembuh atau malah meninggal. Profesi kedokterab tidak menjanjikan kesembuhan. Yang bisa kami berikan adalah upaya yang sesuai dengan standar profesi untuk mengupayakan kesembuhan.
Tapi, kasus dokter yang lalai dan bekerja tidak sesuai dengan standar juga ada, cukup sering malah.
Sebenarnya kalau masalah lalai, siapa saja bisa lalai. Supir saya yang lalai masuk jalur busway sehingga ditilang, pembantu saya yang lalai menutup keran air sehingga rumah menjadi kebanjiran, atau para pialang yang lalai mengetikkan transaksi jual beli saham sehingga menyebabkan kerugian miliaran rupiah. Tapi kalau dokter atau perawat yang lalai, duhh, rasanya tidak ada yang bisa memaafkan ya. Apalagi kalau akibat kelalaian itu pasien menjadi cacat atau meninggal. Pernah ada kasus dokter salah mengoperasi, harusnya telinga bagian kanan yang dioperasi malah bagian kiri. Pasien tidak meninggal, tidak cacat, tapi tetap saja salah. Kali lain ada perawat yang salah memberikan obat sehingga menyebabkan seorang ibu hamil keguguran, atau kasus pasien yang menjadi lumpuh akibat salah masuk rute obat. Kalau sudah begini, siapa bilang jadi dokter itu enak? Harus siap ditelfon, dikonsultasikan, dan dipanggil 24 jam. Harus langsung fully awake begitu dibangunkan agar bisa memberi instruksi obat dengan benar dan tepat. Atau kalau saya, harus siap menghitung jumlah tetesan infus atau dosis obat karena pasien anak obatnya pake dosis menurut berat badan. Gak ada cerita boleh salah dosis meskipun tengah malam begitu masih ngantuk-ngantuknya. Jadi, who wants to be a doctor?
No comments:
Post a Comment