Demam Berdarah Dengue - Short Review May 26, '08 8:54 AM. From Multiply.
Pengantar: Ini cuplikan dari salah satu posting saya di milis lain. Daripada nulis dua kali, mendingan di-copy-paste aja kan?
Virus dengue itu ada 4 tipe. Makanya kalo T**** sampe 3 kali kena, ya karena dia kena virus1,2, dan 3. Masih bisa satu kali lagi T*! Ups .. kidding. Btw .. T**** kamu teh tidak belajar dari pengalaman atuh bisa kena 3 kali. Emang PSN dengan 3M-nya tidak dijalankan ? :-)
Harus dipahami bahwa infeksi oleh virus dengue itu bisa menyebabkan berbagai tipe penyakit: dari yang gak ada gejala sama sekali ( terinfeksi tapi tidak sakit apa2), ada yang demam cuma 1-2 hari (undifferentiated viral illness), ada yang jadi demam dengue (DD), dan ada yang jadi demam berdarah dengue (DBD). Untungnya hanya sekitar 3% saja infeksi virus dengue akan menjadi DBD. Jadi SEBAGIAN BESAR orang yang terinfeksi virus dengue hanya memiliki gejala yang ringan.
Masalahnya, pada yang berkembang jadi DBD, ada sebagian yang bisa menjadi syok (DSS - dengue shock syndrome) dan jika tidak tertangani dengan baik, bisa menimbulkan kematian.
Masalah berikutnya, bagaimana bisa membedakan DD dengan DBD ? DD dan DBD itu terdiri dari 3 fase: fase demam (2-7 hari), fase turun demam (atau disebut fase kritis/syok pada DBD) selama 24-48 jam, dan fase penyembuhan. Kalau masih di fase demam, kadang sulit membedakan DD dengan DBD, bahkan sulit dibedakan dari demam akibat virus lain. Cuma, begitu masuk fase turun demam, pada DBD terjadi kebocoran cairan dari pembuluh darah (pada DD, tidak ada kebocoran ini). Cairan itu pindah ke jaringan seperti rongga perut, rongga selaput paru, bawah kulit, dll. Jika cairan yang pindah jumlahnya banyak, akibatnya pembuluh darah jadi 'kosong', jadi syok. Kalau syok sudah terjadi dan tidak segera diisi cairan (dalam hal ini infus), bisa menyebabkan serangkaian kejadian dalam tubuh yang hasil akhirnya adalah perburukan keadaan (perdarahan, gagal ginjal, dll). Jadi kunci dalam tata laksana DBD adalah MENGENALI KAPAN TERJADINYA KEBOCORAN CAIRAN.
Kepinginnya kan kita bisa mengenali DBD sejak dini (gak usah nunggu sampai syok). Ternyata sulit. Dengan sistem skoring (bener ya Goeh?) saja paling cuma meramalkan (gak tau ketepatannya) mana yang cenderung akan berkembang jadi berat. DBD ini sulit, karena sangat banyak terjadi overdiagnosis (semua demam dengan trombosit yang mulai turun cenderung di-DBD-kan, padahal belum tentu), meski juga sering underdiagnosis (tau-tau syok). Untuk itu WHO mengeluarkan panduan untuk mendiagnosis DBD:
Klinis:
- Demam 2-7 hari (biasanya tanpa disertai batuk-pilek berdahak)
- Ada pembesaran hati (ini musti periksa ke dokter atuh)
- Ada manifestasi perdarahan misalnya mimisan, gusi berdarah, bintik merah di kulit (atau minimal tes bendung/Rumple Leed positif, artinya abis ditensi trus ditahan 15 menit lalu timbul bintik-bintik di kulit)
- Ada syok
Lalu, untuk pemeriksaan laboratorium:
- Ada trombositopenia (trombosit <100.000)
- Ada hemokonsentrasi (= darah mengental akibat cairan pindah dari pembuluh darah ke jaringan). Ini yang sulit. Bukti hemokonsentrasi itu sulit dinilai jika baru satu kali memeriksa lab. Cuma untuk anak2, kalau hematokrit sudah di atas 40 sudah musti waspada. Tapi tidak berarti hematokrit >40 itu sudah tinggi, tergantung nilai standar hematokrit si anak biasanya. Bukti lainnya adalah adanya cairan di rongga selaput paru pada foto rontgen, kadar protein darah yang rendah, dll.
Menurut WHO, 2 dari 4 kriteria klinis ditambah 2 kriteria laboratorium, cukup untuk mendiagnosis DBD. Lalu, untuk konfirmasi diagnosis, bisa diperiksa IgG/IgM anti dengue atau dengue blot.
Pada kenyataannya, kriteria WHO tadi juga gak gampang untuk menerapkannya. Jadi, tips dari saya menurut pengalaman singkat saya praktek:
- Jika anak demam tanpa batuk pilek berdahak
- Demam tinggi terus-terusan
- Kadang disertai muntah & nyeri perut
- Tinggal di daerah yang lagi banyak DBD
Jika demam masih ada >48 jam (ada yang pake patokan >72 jam), pls see your doctor .. jika perlu lakukan pemeriksaan lab.
Umumnya akan dinasihatkan kepada ortu untuk waspada tanda-tanda syok jika:
- Saat turun demam anak malah jadi lesu dan lemah (sebagian besar anak kalo demam turun udah langsung loncat2 lagi)
- Saat turun demam tangan dan kaki teraba dingin dan lembab
- Ada nyeri perut (berbagai penelitian menghubungkan nyeri perut dengan kejadian syok)
Pemeriksaan trombosit belum menunjukkan penurunan jika dilakukan hari ke-1-2 demam, masih normal. Mulai hari ke-3 biasanya baru kelihatan. Jika trombosit mulai turun mendekati 100.000, hematokrit mulai naik, sebaiknya periksa lab ulang untuk melihat apakah trombosit tambah turun dan hematokrit tambah naik. Sebagian dokter (dan ortu) akan meminta untuk dirawat. Sebenernya sih ini demi keamanan pasien aja (dan dokternya tentu). Dengan perawatan, minimal bisa dipantau hematokrit, tekanan darah dan tanda-tanda syok lainnya. Sampai kapan dirawat ? Sampai lewat fase kritis/turun demam. Jadi, jangan minta dirawat pada hari pertama demam ya. Saat dirawat musti diapain ? Paling diinfus. Tidak perlu obat apapun kecuali obat penurun demam. TIDAK PERLU ANTIBIOTIK. TIDAK PERLU ANTIVIRUS.
No comments:
Post a Comment