Anak yang terimbas ... (3) Sep 6, '08 1:50 AM. From Multiply.
Wahh .. kalo mau cerita tentang anak2 yang terinfeksi HIV/AIDS .. bisa bikin sinetron dehh .. Banyak kisah-kisah di balik sakit mereka yang cukup tragis.
Sebagian anak itu sudah tidak memiliki orangtua lagi. Ada yang ayah-ibunya sudah meninggal, ada yang ibunya meninggal dan ayahnya kabur saat diberitahu bahwa istrinya menderita AIDS. Anak-anak ini menjadi beban paman/tantenya, nenek-kakeknya yang sudah tua, bahkan ada yang diurus oleh nenek buyutnya karena neneknya masih bekerja, sementara ibunya yang berusia 17 tahun entah kemana. Ada yang diletakkan di muka panti asuhan dan sekarang panti asuhan itu bingung bagaimana cara merawat anak penderita HIV. Ada yang ayah ibunya masih sangat kecil (MBA ? who knows), tidak punya pekerjaan untuk biaya berobat anaknya. Yang menanggung ? Tentu keluarga besarnya, tapi kedua orangtua itu tidak berani berterus terang pada keluarganya. Ada yang diurus hanya oleh ibunya karena ayahnya sudah meninggal. Dan masih banyak lagi tragedi hidup lainnya.
Kemarin baru bertemu dengan seorang anak usia 2 tahun, beratnya cuma 5 kg. Dari jauh sudah tampak kulitnya yang putih membungkus tulangnya. Napasnya sesak. Tentu saja anak itu perlu dirawat. Sempat tidak habis pikir, mengapa ibunya tega membiarkan anaknya sampai kurus kering seperti ini baru dibawa berobat. Tapi tentu saja saya tidak boleh menghakimi orangtua pasien. Mereka pasti punya alasan tersendiri yang sudah cukup membuat hidup mereka sulit tanpa perlu saya tambahi teguran. Ibunya adalah IDU dan positif HIV. Ayahnya tidak terkena. Mereka berdua masih sangat muda, baru 20 tahun. Ayahnya mungkin mulanya adalah mahasiswa, yang kemudian harus bekerja karena istrinya (pacarnya?) hamil. Mereka tinggal bertiga saja di rumah kontrakan. Waktu dianjurkan memasukkan anaknya ke RS, ibunya menolak. Tidak ada biaya (duhhh .. kalimat sakti yang bisa bikin saya pening). Saya ngobrol panjang lebar dengan ibu itu .. akhirnya dia bilang: tunggu ya dok, saya bicara dulu dengan keluarga saya. Tampaklah ibu itu sibuk mengobrol di HP. Sementara anaknya duduk di depan saya, matanya bulat dan tampak cukup besar untuk ukuran mukanya yang mungil. Istilahnya belo ya? Mengingatkan saya pada anak kucing yang kedinginan dan minta digendong.
Tak berapa lama ibu itu kembali. Dok, saya mau bawa pulang anak saya. Keluarga saya tidak mau membiayai. Sudah terlalu sering anak saya masuk rumah sakit. Duhhhh .. kepala saya bertambah pening. Saya masih mencoba membujuk untuk mengurus SKTM atau jamkesmas, tapi lagi-lagi terbentur masalah administrasi. Keluarga ini tidak punya KTP dan KK DKI, dan menurut mereka, sudah mencoba mengurus tapi sulit karena dimintai biaya yang cukup besar (hhrgghhh .. sudah sering saya dengar tentang ini .. sulitnya membuat KTP DKI). Akhirnya, anak itu digendong pulang. Resep sudah di tangan, mereka tinggal mengambil obat (yang untungnya gratis disediakan pemerintah, kecuali biaya pembuatan puyernya) di Pokdisus. Saya cuma berpikir, akankah bulan depan masih bertemu anak itu?
****jika ada yang mau mendermakan sebagian rejekinya untuk anak2 malang ini, yang tertular HIV tanpa mereka mengerti mengapa .. boleh lho menghubungi lembaga-lembaga seperti Yayasan Pelita Ilmu, Pokdissus HIV/AIDS RSCM atau bisa menghubungi saya di endah182@yahoo.com, nanti saya kasitau caranya. Anak2 ini perlu susu formula (mereka tidak bisa diberi ASI) yang tentu perlu biaya, perlu pemeriksaan laboratorium, dan perlu obat-obatan selain obat gratis yang disediakan pemerintah. Berapa pun sangat membantu mereka.
No comments:
Post a Comment