Anak yang terimbas .. (1) Sep 6, '08 12:02 AM. From Multiply.
Sudah sekitar setahun ini saya menangani kasus bayi dan anak yang menderita HIV/AIDS. Duhh .. rasanya ngilu kalau saya menjumpai mereka. Rata-rata bayi/anak itu datang dalam kondisi tulang dibalut kulit, sariawan yang penuh di mulut, perkembangannya terlambat, diare berkepanjangan, demam-demam terus .. ahh .. mengenaskan pokoknya. Sebagian besar tidak bisa melewati ulangtahunnya yang kedua (beberapa kurang dari enam bulan saat meninggal), meski ada sebagian lagi yang saat ini sudah mau remaja.
Kasus bayi dan anak dengan HIV/AIDS sedang meningkat saat ini, imbas dari makin banyaknya orang dewasa yang terinfeksi HIV. Sebagian anak didiagnosis dulu mengidap HIV, baru orangtuanya diperiksa dan ternyata positif. Sebagian lain orangtuanya dulu yang sakit (atau meninggal), baru anaknya diperiksa dan ternyata positif. Bagaimana anak-anak itu bisa terkena ? Tentu saja dari ibunya. Ibunya bagaimana bisa terinfeksi? Ya berbagai cara. Ada ibu yang pengguna narkoba suntik atau IDU (injecting drugs user) yang saling bertukar jarum suntik dengan penderita HIV, ada ibu yang merupakan PSK (ini mah tau lah singkatannya apa), dann .. ini yang mengenaskan, ada ibu rumah tangga yang tertular dari suaminya.
Sebenarnya, dengan kemajuan jaman, saat ini sudah diketahui cara-cara pencegahan penularan virus HIV dari ibu hamil ke bayinya. Ibunya bisa diberi obat pencegahan, ibunya sebaiknya (kalo gak bisa dibilang diwajibkan) melahirkan dengan cara operasi sesar, ibunya tidak menyusui, dan bayinya diberi obat pencegahan selama 6 minggu. Dengan tindakan pencegahan tersebut (PMTCT = prevention mother-to-child HIV transmission), bisa menurunkan risiko penularan yang cukup bermakna. What a miracle ! Yang sedihnya, belum ada upaya untuk melakukan skrining pada ibu hamil apakah dia tertular HIV atau tidak. Kalau ibu hamil ditawarkan untuk skrining TORCH (toxoplasma, rubella, CMV, Hepatitis), rata-rata setuju meskipun harga skrining itu jutaan. Tapi kalau ditawarkan untuk skrining HIV yang cuma sekitar 100ribuan, mungkin (mungkin lho ya) langsung menolak dan mengernyitkan muka: kok si dokter nuduh saya kena HIV sih, orang saya gak pake narkoba dan tidak melakukan multi partner sex (MPS). Jadi, dokter Obgyn-nya juga rata-rata keberatan untuk menawarkan skrining tersebut ke pasien-pasiennya. Padahal nih .. padahal .. siapa yang tau sih kalo pasangan kita bebas HIV ? Penderita HIV itu kan bisa tanpa gejala selama bertahun-tahun. Siapa yang ngira sih kalo pasangan kita - misal karena khilaf, atau memang karena doyan - melakukan MPS, dan sialnya dengan penderita HIV ? Jadi, di samping mendapat oleh-oleh tas bermerk dari luar negeri, kita juga dioleh-olehi virus HIV? Duhh .. knock on the wood dehh .. tapi that's reality. Beberapa pasien saya seperti itu. Ibunya adalah ibu rumah tangga yang tidak bekerja, hanya membesarkan anak semata.
Jadi .. untuk para ibu hamil, mintalah skrining HIV pada dokter anda. It will save your baby's life. Biarin aja dipelototin suami, for the sake of your baby .. and yourself. HIV bisa diobati lhoo ..
No comments:
Post a Comment