Tuesday, December 18, 2012

Repost: Pindah rumah ....


Pindah rumah .... Aug 19, '08 8:24 PM. From Multiply. Beberapa minggu terakhir adalah saat yang paling heboh buat keluarga saya. Mulai awal Agustus, kami sekeluarga pindah rumah dari Kuningan ke Jagakarsa. Pindah rumah adalah peristiwa penting, yang sangat-sangat melelahkan dan cukup membuat stress. Ini adalah kepindahan saya (sejak menikah, jangan hitung yang sebelum menikah) yang keempat kali. Pertama, pindah dari Bogor. Dulu saya PTT di Bogor, jadi suami yang bolak-balik ke Karawang – waktu itu dia kerja di Karawang. Lumayan juga, Karawang – Bogor (instead of Karawang – Bekasi by Chairil Anwar .. hehe, maksa). Waktu itu kami pindah dari Bogor ke Kalibata, ke rumah dinas Ayah saya yang tidak beliau pakai. Lumayannn .. gak usah kontrak rumah, sudah ada furniture + lemari es + TV. Pokoknya .. tinggal bawa baju dan panci deh. Dari Kalibata, saya biasa memakai KRL ke Bogor maupun ke Depok (sambil S2 soalnya di UI Depok). Mau pakai bis juga gampang, tinggal didrop suami di UKI Cawang, langsung naik bis ke Bogor, Di Kalibata inilah anak yang pertama lahir. Lumayan, proses membawa bayi kecil jalan pagi gak susah, di lingkungan kompleks cukup tenang. Pindah rumah kedua, saat masa kerja Bapak habis, jadi harus keluar dari rumah dinas tersebut. Sempet ngubek2 Jakarta, akhirnya pilihan jatuh ke Cibubur. Pertimbangannya adalah dekat dengan Jagorawi (dulu belum ada tol Cipularang) maupun Cileungsi, jadi memudahkan untuk pulang ke Bandung. Cibubur saat itu masih belum begitu rame. Mall yang ada cuma mall Cibubur. Belum ada ruko-ruko sepanjang Cibubur maupun Cububur Junction. Fasilitas di sini lebih lengkap, ada kolam renang dan lapangan tennis. Jadi, anak saya bisa berenang anytime, main dengan anak tetangga sepuasnya. Sebenernya rumah Cibubur sangat ideal untuk anak saya. Tapi, setelah pindah ke Cibubur, saya kemudian sekolah lagi, kali ini di RSCM. Cibubur – RSCM cukup jauh, dan lama kelamaan Cibubur menjadi semakin macet. Meninggalkan anak umur 1.5 tahunan hanya ditemani pembantu tentu membuat saya gak tenang. Mana mulai umur segitu anak saya mulai timbul asma-nya. Akhirnya, kami memutuskan kembali pindah, mendekati RSCM. Kali ini ke daerah Kuningan, di suatu apartemen. Mulanya suami menolak habis-habisan. Tapi setelah saya yakinkan, bahwa tinggal di apartemen lebih mudah untuk transportasi (hemat BBM, mana waktu itu tol naik), fasilitas juga lengkap (ada kolam renang, lap tenis dan playground), dan terpenting adalah relatif dekat ke RSCM, akhirnya suami setuju pindah. Buat suami saya, tinggal di landed house masih menjadi keharusan, karena gak bisa pelihara binatang kalau tinggal di apartemen (burung peliharaan suami cukup banyak soalnya). Di apartemen ini lahirlah anak kedua. Sama2 laki-laki. Kedua anak saya itu tidak bisa diam. Ngubek-ngubek mainan di kamar ini, setelah itu pindah ke kamar lain untuk berantem-beranteman. Lalu, mengikuti jejak ayahnya, mereka tergila-gila pada sepeda. Otomatis saat ini jumlah sepeda yang kami punya ada 5 (punya suami, saya – yang dibelikan oleh suami tanpa persetujuan, katanya supaya bisa ikut gabung kalo dia dan anak2 main sepeda, Raka (dia punya dua, sepeda masa kecil dan sepeda yang sekarang), dan Rangga. Belum termasuk perlengkapan sepeda seperti helm, ransel, sepatu, dll. Lalu, suami saya tergila-gila juga pada tennis. Perlengkapan tennisnya juga cukup lumayan. Lalu, saya yang harus sekolah dan memang hobi baca, tentu punya koleksi buku yang bertumpuk2. Belum mainan milik anak2 yang semakin lama semakin banyak (kalau mau membuang mainan yang sudah rusak harus saat mereka tidak ada di rumah, karena lama-lama mereka mirip ayahnya, yang masih menyimpan barang2 rongsokan hanya dengan alasan sayang). Jadi, bisa dibayangkan, makin lama apartemen saya yang sudah kecil itu menjadi semakin sempit. Sudah waktunya mencari sarang yang lebih besar kan ? Sebenarnya, alasan penting lain saya ingin pindah rumah adalah anak saya yang besar bolak-balik kambuh asma dan rhinitisnya. Well, tinggal tepat di tengah kota tentu membuat debu dan polusi semakin banyak. Jadi, dengan berbekal tekad seperti itu, saya memutuskan untuk pindah. Gak mudah menentukan mau pindah ke mana. Sebenarnya saya ingin balik ke Cibubur, kembali ke rumah lama yang selama ini dikontrakkan. Tapi suami keberatan, karena kawasan Cibubur sekarang sudah sangat macet, dan kami harus tergantung pada jalan tol yang seringkali macet akibat kecelakaan, truk mogok, dll. Akhirnya, sepakat untuk mencari daerah lain selain Cibubur. Pilihan jatuh pada Jakarta Selatan. Entah kenapa, buat saya rasanya lebih enak tinggal di selatan, padahal kantor saya sekarang di Jakarta Barat. Setelah hunting yang cukup melelahkan, pilihan jatuh pada daerah Jagakarsa. Daerahnya belum rame, masih banyak pohon, dan yang terpenting harga tanah belum semahal daerah Jakarta Selatan lainnya. Oya, yang penting juga adalah, masih bisa punya KTP DKI! Hehe .. Selangkah lagi ke Cinere maupun Depok, kan, KTPnya sudah beda. Akhirnya rumah di Cibubur dijual, kami belikan rumah di Jagakarsa. Pinginnya sih ini rumah terlama kami. Gak bisa bilang ini rumah terakhir, tapi minimal kami cukup lama lah tinggal di rumah ini. Di Bogor, kami tinggal hanya selama satu tahun. Di Kalibata selama satu tahun juga. Di Cibubur, selama 1,5 tahun. Di Kuningan, selama 7 tahun. Gak terasa, dari yang asalnya menolak pindah ke Kuningan, ternyata suami betah sekali di sana. Tentu karena ada perkumpulan tenis para penghuni. Dia bisa tenis seminggu 3-4 kali bersama teman2nya. Rencana pindah dari Kuningan juga yang mula2 menentang adalah suami. Tapi karena memang sudah tidak ada space lagi untuk kami tinggal dengan semakin banyaknya barang yang kami tumpuk (sementara dia menolak untuk menjual / membuang barang-barangnya itu), akhirnya, mau tidak mau dia setuju. Akhirnya, setelah proses perencanaan yang cukup lama (susah juga ya menerjemahkan keinginan kami menjadi suatu desain rumah), mulailah rumah kami dibangun. Ternyata, proses pembangunannya juga gak kalah lamanya. Hampir di akhir pembangunan rumah, ternyata BBM naik. Wadauww .. untung kami sudah deal dan membayar harga rumah jauh sebelum BBM naik. Kalo gak, bisa-bisa rumah kami gak selesai akibat kekurangan biaya. Ternyata, developernya santai sekali. Dari rencana selesai bulan Maret, dan diberi waktu tambahan sampai bulan Mei, rumah tetap belum selesai. Padahal anak-anak sudah saya pindahkan sekolahnya mendekati ke rumah baru. Jadi terpaksa di awal tahun ajaran, anak-anak pergi dari rumah sangat pagi. Dan, akhirnya kami – dengan memaksa meski rumah belum 100% sempurna – pindah pada tanggal 4 Agustus kemarin. Jadi saat ini sudah hampir 4 minggu saya tinggal di rumah baru. Masih berdebu, masih kurang ini dan itu, masih kotor, masih berantakan, dan masih banyak masih-masih lainnya. Karena gak bisa cuti – saya harus membereskan rumah sambil kerja. Cukup bikin stress, karena di kantor work load juga lagi lumayan tinggi. Mudah-mudahan kami semua betah di rumah baru, anak-anak bisa senang karena punya halaman yang cukup luas, bisa memelihara binatang, suami bisa kembali memelihara burung (baru 4 minggu sudah ada empat burung di rumah ... huhh), dan saya .. bisa punya tempat banyak untuk menyimpan buku-buku koleksi saya.

No comments:

Post a Comment