Kenapa dokter jarang mengucapkan terima kasih pada pasien ? Jun 8, '08 3:01 AM. From Multiply.
Ditulis 30 Januari 2007 di blog lain - berhubung blog-nya udah gak pernah saya buka lagi .. saya pindahin ke sini aja ya.
Saya mendapat kesempatan untuk bekerja di suatu rumah sakit swasta di Jakarta. Rumah sakit ini totally profit oriented, jadi customer oriented banget. Para perawat diajari cara berdandan dan berperilaku ramah pada pasien (sampe datengin konsultan kepribadian setingkat JRP, hehe). Nah, sekarang giliran dokter-dokternya yang di-upgrade. Kalo dokter senior .. ya, gak mungkin lah diceramahin. Jadi dokter2 'baru' seperti saya yang 'mendapat kesempatan' di-upgrade.
Ada satu topik yang diingatkan oleh Direktur RS saya. Kenapa dokter jarang mengucapkan terima kasih pada pasien? Topik itu berasal dari diskusi di sebuah milis yang diforward ke beberapa dokter oleh Direktur RS. Mulanya saya membacanya dengan asal-asalan (mikir .. aneh banget sih topiknya). Ternyata setelah saya baca lagi .. cukup menarik. Saya ingin membagi topik ini, mudah-mudahan bisa menjadi inspirasi.
Diskusi di milis itu bermula dari suatu pertanyaan (dari seorang dokter), kenapa dokter jarang mengucapkan terima kasih pada pasien. Dokter itu berpendapat bahwa seorang pasien sudah memberikan imbalan berupa uang pada dokter, dan sudah seharusnya dokter berterima kasih pada pasien tersebut. Dokter lain menanggapi, bahwa pasien lah yang memerlukan keahlian dokter sehingga wajar pasien yang berterima kasih dan memberi imbalan (uang) pada dokter, yang biasanya akan dibalas oleh dokter: sama-sama atau terima kasih kembali. Ada satu email yang akhirnya bisa menjawab polemik tadi. Berikut kutipan email dari diskusi tersebut:
Dear All,
Menurut saya, ucapan terimakasih sebaiknya dilakukan dengan kerelaan dan ketulusan, bukan karena keterpaksaan.
Sejak kecil kita diajarkan utk pandai-pandai berterimakasih, dan kebiasaan berterima kasih itu akan terus terbawa sepanjang hidup kita.
Saya jadi ingat, sahabat saya, seorang Dokter Spesialis yang sangat senior, juga seorang petinggi dan akademisi yang sangat dihormati dilingkungan fakultas, penguji Nasional PPDS, dan sederet lagi jabatan2 penting yang dipegangnya.
Yang menarik, saya melihat beliau ini adalah salah satu contoh orang yang sangat pandai berterima kasih dan selalu mengerti alasan kenapa beliau mengucapkan terima kasih.
Dan saking seringnya saya bergaul dengan beliau, saya jadi melihat bagaimana "terima kasih" telah menjadi kebiasaan dan bagian dari keseharian hidup beliau, dan saya pernah berdiskusi dengan beliau ttg hal ini.
Beberapa contoh2 sederhana yang saya amati dari beliau saat berterim kasih, sbb:
Pada saat turun dari mobil, beliau mengucapkan terima kasih (dengan tulus) kepada sopirnya.
Alasan beliau kenapa berterimakasih? : Meski sudah menggaji sopir itu, beliau merasa berterimakasih karena sopirnya telah mengantar beliau, menjalankan mobil dengan hati-hati sehingga beliau selamat di tujuan.
Pada saat mahasiswa peserta PPDS telah mengirimkan email, baik itu tugas-tugas kuliah dan bahan ujian profesi utk beliau periksa, beliau membalas email dengan kalimat : "Email sudah saya terima. terima kasih."
Pada saat mengajar, dan memberikan pertanyaan kepada residen, ada residen yg menjawab pertanyaan itu secar panjang lebar.
Sebelum menanggapi dan meluruskan jawaban itu, beliau ucapkan dengan tulus dan spontan : "Terima kasih. " (karena residen itu telah menjawab dengan segala usaha dan kemampuannya)
Pada saat selesai berdiskusi dengan saya dan teman2 sejawat, beliau mengakhiri dengan : "OK, terima kasih ya.." atau "OK, thanks.." (karena beliau merasa kami telah memberikan waktu dan memberikan masukan2/saran/ pendapat) .
Setelah selesai makan di restoran dan membayar bill, beliau mengucapkan terima kasih dengan tulus kepada pegawai restoran/kasir/ waiter yang mengantarkan kembali bill atau kartu kredit kepada beliau.
Di ruang konsultasi, beliau berterima kasih kepada pasien setelah pembicaraan/ session konsultasi selesai. Bukan semata-mata karena uang yang telah diterimanya, tapi karena kepercayaan pasien yang telah datang kepadanya.
Dan masih banyak lagi ucapan terima kasih yang beliau berikan kepada orang-orang di sekitarnya, baik itu kepada detailer, kepada tukang rumput, kepada loper koran, kepada satpam rumah sakit, kepada teller di bank, sopir taksi, dll yg tidak mungkin saya sebutkan satu per satu di email ini.
Jadi, ucapan terimakasih itu bukan saja hanya karena telah menerima uang atau pemberian yang berupa materi. Ucapan terimakasih bisa juga karena hal-hal yang tidak bisa terukur dengan materi.
Ucapan terima kasih bukan berarti membuktikan bahwa posisi seseorang lebih rendah atau lebih dibawah daripada orang yang diberikan ucapan terima kasih, tetapi Ucapan terima kasih menunjukkan kerendahan hati, dan sikap penghargaan kita kepada sesama manusia, apapun posisi dan profesinya.
Seperti sahabat saya, dokter senior yang saya ceritakan di atas, dengan berterima kasih kepada orang-orang disekitarnya, orang-orang itu merasa "dihargai", dan sebagai dampaknya (baik langsung maupun tidak langsung), orang-orang itupun jadi SEMAKIN menghargai beliau.
Pada saat menghadiri seminar nasional dan menjadi pembicara di berbagai tempat, saya lihat banyak sekali dokter-dokter menghampiri dan menyambut beliau, dan menyapa beliau dengan penuh rasa hormat.Ternyata itu karena mereka semua merasa dihargai oleh beliau sewaktu dulu mereka menjadi residen beliau atau diuji oleh beliau.
Sopir beliau selalu senang mengantar beliau kemanapun beliau pergi; Petugas satpam selalu senang membukakan pintu saat beliau masuk di RS;
Detailer dan pasien ramai mengunjugi tempat praktek beliau tiap hari;
Tukang rumput membersihkan taman di rumahnya dengan senang hati;
Tukang Lumpia selalu menyambut beliau dengan senyuman saat beliau mampir dan membeli lumpia goreng di warungnya.
Pada saat beliau sakit dan sempat dirawat di RS, berduyun-duyun orang datang membezuk beliau sampai pihak RS kewalahan oleh banyaknya orang yang datang dan mendoakan kesembuhan beliau.
Dan masih banyak lagi, itu semua karena mereka semua merasa telah "dihargai" oleh Pak Dokter itu dengan ucapan dan sikap terimakasih yang tulus dan ikhlas.
Dan Pak Dokter itu tidak kehilangan sedikitpun status nya, harga dirinya, posisinya, respect masyarakat kepadanya, hanya karena beliau telah mengucapkan terima kasih kepada mereka.
Justru orang-orang semakin respect dan menghargainya.
Saat pasien datang pada kita, kita mengucapkan terimakasih.
Dengan ucapan terima kasih itu, pasien merasa eksistensinya dihargai,
Dengan ucapan terima kasih, pasien tahu kita menghargainya.
Saat pasien merasa dihargai, pasien semakin menghargai kita.
Saat pasien menghargai kita, dia akan mendengarkan nasihat2 kita.
Dengan terima kasih yg tulus, Pasien ikhlas atas jumlah uang/biaya konsultasi yang telah kepada dokter,
Karena pasien ikhlas, uang itu akan menjadi berkat bagi kita.
Saat pasien ikhlas dan senang, maka dia ikhlas menebus obat, dia ikhlas melakukan petunjuk2 dan minum obat secara teratur.
Dengan begitu pasien sembuh.
Pasien sembuh, ada kepuasan pribadi di dalam diri kita.
Kita senang pasien sembuh. Pasien akan semakin percaya kepada kita, dan dia akan dtg kepada kita lagi, utk berkonsultasi lagi kalau ada gangguan kesehatan pada dirinya.
Dengan semuanya itu,
Hubungan dokter dan pasien akan menjadi lebih harmonis.
Cukup satu kata: "terimakasih" , namun bisa membuat hubungan dokter dan pasien menjadi lebih baik. Bukan karena uang yang telah dibayarkan, tapi karena keikhlasan kedua pihak utk bisa saling menghargai.
Memang tidak gampang utk bisa melakukan seperti itu. Diperlukan sikap rendah hati dan kebesaran jiwa utk mampu mengucapkan terima kasih dalam segala hal spt itu.
What do you think ?
No comments:
Post a Comment