Tuesday, December 18, 2012

5cm


5 cm. Semalam nonton film ini bareng anak-anak. Keren. Menunjukkan keindahan Indonesia pada kita. Filosofi film ini dalam sekali. Berharap anak-anak bisa menangkapnya, minimal anakku yang besar, yang udah ABG, yang mulai naksir cewe, yang mulai lebih suka kumpul sama teman-temannya ☺ Persis tokoh Riani yang berterima kasih pada Genta karena sudah mengajak naik gunung, supaya bisa bercerita pada suami dan anak-anaknya nanti, saya juga merasa bangga pernah naik gunung juga. Cuma pernah, karena cuma pernah tiga kali saja. Kalau diajak lagi sekarang, no thank you. Kangen sih tapi sadar diri aja. Masa kalah sama Ian si pesut Ancol (dalam film 5 cm) yang mampu naik gunung seperti itu? Ah, itu kan cuma di novel atau film. Hahaha .. Asal muasal saya naik gunung sih bukannya karena saya cinta gunung. Cuma sebagai syarat karena saya jadi anggota pencinta alam ☺ Saya lebih cocok jadi anak Pramuka, karena sejak SD, SMP, SMA aktivitas saya lebih banyak di Pramuka. Sudah jadi passion saya selain organisasi siswa (OSIS) dan senat mahasiswa. Siaga, Penggalang, Penegak saya lewati semua. Camping di halaman sekolah, di lapangan perkemahan sampai di desa-desa saya ikuti. Gerak jalan, lomba ketangkasan juga jadi makanan sehari-hari. Tiap weekend bisa ditebak saya ada di mana. Di sekolah. Sibuk dengan kegiatan Pramuka. Cinta monyet saya juga berawal di Pramuka. Dia kakak kelas yang jadi ketua Pramuka putra pas SMP (istilahnya Pradana), dan saya juga jadi Pradana putri tahun berikutnya. Saat kuliah, tidak ada kegiatan Pramuka di kampus saya. Adanya di kampus pusat yang udah pindah ke Jatinangor. Kampus saya di Pasirkaliki. Ternyata kegiatan kuliah juga menyita waktu, sehingga saya cuma bisa beraktifitas di dalam kampus. Jadilah saya bergabung dengan pencinta alam di kampus. Atlas Medical Pioneer. Pencinta alam khusus untuk mahasiswa Fakultas Kedokteran UNPAD. Ada sedikit faktor naksir kakak kelas juga sih pas bergabung di AMP itu, hehehe. Untuk jadi anggota AMP, saya harus ikut Pendidikan Dasar. Lupa tepatnya berapa bulan, 3-6 bulan deh. Saya harus ikut latihan fisik setiap minggu. Lari pagi, lari sore. Dari lari keliling Gasibu (dulu Gasibu masih enak dipakai lari, sekarang udah ancur), sampai menaiki tanjakan dago. Dari tanpa beban, sampai pakai beban ransel diisi entah batu atau air kemasan. Berapa ya dulu beban yang harus dibawa? Berat deh. Mulai jalan kaki, lari, jalan jongkok. Duuuh, ampuuun .. Lalu harus ikut rock climbing (panjat tebing), rafting, perjalanan malam baca peta, camping. Diajari juga cara survival, mengenali daun-daun yang boleh dimakan. Cara membuat api. Puncaknya adalah perjalanan selama 3 hari dua malam. Diakhiri dengan direndam di danau Ciwidey. Pelantikan deh! Bangga dong jadi anggota Pencinta Alam ☺ Kegiatan jadi anggota pencinta alam antara lain sering ikut menjadi tim medis bagi pencinta alam lain yang sedang Pendas atau mahasiswa yang sedang menjalani masa orientasi siswa. Paling semangat kalau disuruh ke ITB. Bisa cuci mata di kampus yang penghuninya mostly cowo kan? Hehehe .. Salah satu syarat lain jadi anggota adalah melakukan pendakian ke gunung. Saya berkelompok bersama Mamat, Wian (mereka berdua sekarang jadi suami istri ☺), Indira, Tine, Dewi, Aldi dan Gamal. Dipandu oleh senior kami, Kang Adang. Kami memilih pergi ke Gunung Argopuro di Jawa Timur. Persiapan dimulai, dengan latihan fisik tiap minggu, menabung untuk biaya perjalanan. Perjalanan dimulai dengan menggunakan kereta api. Persis di 5 cm ☺. Kereta api ekonomi, jurusan Surabaya. Merasakan tidur di lantai. Dari Surabaya disambung bis kecil ke Probolingo, lalu naik angkot ke kaki Argopuro. Saya lupa, perjalanan ke puncak Argopuro dan kemudian turun lagi mungkin sekitar 3-4 hari deh. Kemana ya foto-fotonya? Duh, dulu belum jaman FB atau instagram, jadi cuma bisa foto yang dicetak dan entah di mana sekarang. Naik gunung berikutnya ke Gunung Gede. Cuma sekedar jalan-jalan saja melihat sunrise. Fotonya juga entah di mana. Hiks. Gunung Gede tidak terlalu sulit medannya, bisa ditempuh dalam satu hari perjalanan tanpa perlu menginap. Tapi kalau diajak naik lagi sekarang, ampun, nyerah duluan deh. Nah, inginnya sih, anak-anak saya ada yang ngikutin jejak saya gitu jadi pencinta alam. Karena saya belajar sangaaaat banyak di situ. Belajar hidup seadanya. Naik truk, angkot, jalan kaki. Tidur di rumah penduduk, di tenda, tidak ada WC. Makan di warung, masak sendiri dengan kayu bakar. Segala kesulitan hidup yang perlu untuk dipelajari supaya selalu bersyukur pada Allah. Moga-moga setelah nonton 5 cm, anak-anak jadi tertarik deh ☺

Repost: Sang Caleg


Sang Caleg Nov 23, '08 8:59 PM. From Multiply. Di sela-sela kisah menyedihkan tentang pasien-pasien saya, ada juga kisah lucunya. Bukan lucu sebenernya, malah mengenaskan. Salah satu pasien saya, ibunya sudah meninggal. Jadi anak usia 2 tahun ini jika datang selalu diantar oleh neneknya. Untuk pemeriksaan darah berkala, si nenek selalu menunda meski akhirnya bulan berikutnya dilakukan juga. Rupanya nenek itu harus minta uang dulu ke anak pertamanya (pakdenya si pasien) untuk berobat. Spontan saya tanya, memangnya ayah si anak ini kemana bu? Wahh, tak dinyana tak dikira, langsung keluarkah curahan hati (anak sekarang bilang: curhat colongan) si nenek. Dia bercerita bahwa di ayah pasien ini dulunya pengguna narkoba, sekarang memang sudah berhenti. Lalu dia tidak punya pekerjaan alias pengangguran, sehingga biaya berobat harus dibantu kakaknya. Dan sekarang si ayah ini sedang menjadi Caleg di salah satu kabupaten di Jawa Barat. Lhooo? Saya spontan terheran-heran. Bukannya kalau mau jadi caleg itu butuh uang banyak? Ibu itu melanjutkan curhatannya. Si ayah ini berhutang sana-sini sampai belasan juta rupiah demi bisa menjadi caleg. Dan tidak jarang, menggelapkan uang ibunya: disuruh membeli obat dengan uang dari si pakde, malah tidak dibelikan obat. Waduuuhh, entah janji-janji apa yang diberikan oleh partainya sehingga si ayah ini ngotot untuk menjadi caleg. Dengan menghalalkan semua cara. Berhutang sana-sini dan menipu sana-sini. Trus, bisa dibayangkan dong apa jadinya kalau nanti dia terpilih? Korupsi? Ahh, saya tidak mau membayangkannya. Kenapa ya orang berlomba2 untuk menjadi caleg? Apakah jadi anggota DPR/DPRD itu mata pencaharian yang menggiurkan? Lalu, bagaimana bisa memperjuangkan rakyat jika untuk dirinya sendiri masih dalam kesulitan keuangan akibat berhutang saat menjadi caleg. Ahhh, gak berani membayangkan lebih jauh lagi :-(

Repost: Maid of the mist


Maid of the mist Nov 2, '08 7:45 PM. From Multiply. Bukan karena pernah naik kapal ini once upon a time, tapi saya posting tentang musibah yang saya alami dua hari yang lalu. Sudah sering saya ganti-ganti pembantu. Hampir tiap tahun pembantu baru deh. Duluuu, saya dapet pembantu yang cukup lama, sampai anak saya usia 3 tahun. Ada juga yang dua tahun. Tapi sebagian besar paling lama bertahan 1-3 bulanan. Masalahnya, mungkin ...kedua anak saya yang sulit diatur. Mana bisa pembantu santai-santai nonton telenovela kalau setiap saat sibuk mencari-cari barang atau mainan yang anak-anak mau. Atau karena anak saya yang kecil lagi masuk fase susah makan. Atau karena anak saya yang besar pemarah. Atau karena kedua anak laki-laki itu hobinya berantem. Atau mungkin karena saya cerewet? Rasanya sih tidak ..saya cerewet hanya pada pagi hari saat heboh membangunkan, menyuruh mandi dan menyuruh mereka makan. Siang, sore, malam hampir tidak pernah cerewet karena komunikasi hanya per telfon. Masalah gaji? Kalau mau membandingkan dengan pembantu ibu ataupun kakak-kakak saya yang tinggal di Jakarta, gaji para pembantu saya lebih tinggi. Karena saya tinggal di kompleks yang para pembantunya suka saling kumpul dan membandingkan ..jadi harus ngasi gaji sesuai standar kalau gak mau pembantu kita dibajak orang. Beban pekerjaan sebenarnya gak terlalu berat. Untuk mengurus dua anak di (dulu) apartemen sempit tanpa halaman saya mempekerjakan dua pembantu. Setelah pindah rumah, saya tambah pembantu laki-laki untuk mengurus halaman dan binatang. Saya hampir tidak pernah menetapkan standar yang tinggi untuk pembantu. Mau bisa masak/tidak, bisa kerja/tidak, yang penting mau mengurus anak-anak dan jujur. Tidak pernah saya mengeluarkan pembantu, kebanyakan mereka yang minta keluar sendiri. Biasanya moment lebaran itu yang jadi alasan pembantu keluar dan saya cari pembantu baru. Pembantu saya yang sekarang yang satu namanya Ratih - asal namanya Ratiyem. Orangnya jutek, egois, masaknya so-so deh. Dia saya tugaskan untuk masak. Sudah kerja dengan saya sekitar setahun. Lebaran kemarin dia pulang dan balik lagi. Pembantu satunya namanya Trisa. Dia bisa mengajak main anak-anak karena itu saya tugaskan mengurus anak-anak. Pekerjaan lain dibagi dua di antara mereka. Trisa ini pemalas, cengeng, pelupa. Sudah enam bulan bekerja, dan saya pertahankan karena dia bisa mengajak main anak-anak. Tapi antara kedua pembantu ini kerjanya ribuuuuttt terus. Ratih merasa Trisa kerjanya tidak benar, sementara Trisa merasa Ratih kerjanya cuma nyuruh-nyuruh dia saja - maklum usia Ratih lebih tua dari Trisa. Pas lebaran kemarin keduanya asalnya tidak mau balik - tapi suami saya berhasil membujuk mereka. Saya sebenarnya merasa senang kalau mereka tidak balik, tapi suami berpendapat lebih baik dengan pembantu lama supaya tidak usah mengajari lagi dari awal. Akhirnya saya setuju. Keputusan yang saya sesali sekarang. Keduanya akhirnya balik lagi. Saya jarang melihat mereka bertengkar, saya pikir masalah beres. Akhir bulan Oktober kemarin, hari Jumat siang Trisa menelfon saya, minta ijin untuk pergi sebentar ke Cilandak. Saya ijinkan karena janjinya sebentar, sore sudah pulang. Toh saya juga pulang cepat, jadi urusan anak-anak bisa saya handle. Ternyata sampai rumah, Ratih tanya, Trisa itu nginep ya bu? Saya mulai curiga, ahh ..mungkin anak itu bandel, malah mau nginep padahal janjinya tidak. Besok saya marahi deh, begitu rencana saya. Ternyata, sampai keesokan paginya Trisa tidak pulang. Suami saya yang kebetulan mau ambil uang dari lacinya lah yang pertama menyadari musibah yang kami alami. Ternyata Trisa pergi dengan mengambil uang beberapa ratus ribu rupiah, HP dan game anak saya, serta cincin saya. Aduuuhh ..lemas rasanya. Blessing in disguise, notebook dan perhiasan saya lainnya (karena gak pernah saya pakai jadi saya simpan di tempat tersembunyi) tidak diambil. Saya memang teledor, menyimpan cincin di laci meja rias saya. Saya pikir, toh dari dulu juga tempatnya di situ tidak ada masalah. Saya belum mengecek baju-baju saya - masih berantakan setelah pindahan karena belum ada lemarinya. Marah? Jelas. Jengkellll rasanya. Tapi apa mau dikata. Mudah-mudahan bisa jadi pelajaran supaya lebih waspada. Problem sekarang ..saya harus cari lagi pembantu :-(

Repost: Pursuit of happiness


Pursuit of happiness Oct 21, '08 7:48 PM. From Multiply. Saya sudah nonton film ini entah berapa kali. Gak pernah bosen. Lewat film ini saya bisa belajar banyak, bagaimana seorang Chris Gardner (Will Smith) yang harus tidur di 'emper' stasiun (btw, stasiun-nya sih gak sekumuh stasiun2 kita di sini), tempat penampungan tunawisma, bisa bekerja sangat keras - magang, belajar, mengurus anak sendirian - dan berhasil lulus program magang tersebut mengalahkan teman2 kerjanya. Padahal teman2 kerjanya bisa punya waktu lebih banyak untuk bekerja dan belajar. Cukup bikin sedih - saat uang di dompetnya cuma tinggal beberapa dollar, hanya cukup untuk membeli makanan buat satu orang, saat dia harus memperbaiki mesin scanner di bawah lampu koridor, saat dia harus menenteng-nenteng mesin scanner ke seluruh penjuru kota demi untuk bisa membayar sewa kamar, dan ahhh, banyak saat-saat yang bikin saya merasa keterlaluan kalo saya tidak bisa bersyukur. Satu pelajaran lain yang bisa saya petik dari film itu adalah saya mengubah cara pandang saya terhadap profesi telemarketer. Selama ini saya - kalau ada penawaran lewat telefon - selalu menolak tanpa memberi kesempatan mereka untuk berbicara. Tapi setelah nonton film ini, saya berusaha lebih menghargainya dengan mendengarkan dulu apa yang ditawarkan, lalu dengan sopan menolaknya. Mereka menelfon saya kan sebenarnya karena mereka sedang bekerja. Tapi, sebenarnya, lebih bagus ditolak dari awal (artinya tidak buang2 pulsa mereka) atau dengarkan dulu baru tolak? Bagaimana ya baiknya?

High risk job (2)


High risk job (2) Oct 20, '08 9:07 AM. From Multiply. Sekarang, giliran risiko buat dokternya sendiri. Maksudnya, pasiennya yang membahayakan dokter. Sebagai dokter anak, tiap hari saya berhadapan dengan anak yang batuk-pilek. Anak kecil kan gak bisa diatur, tengah saya sibuk memeriksa mulutnya, tiba-tiba ..uhuk-uhuk, wahhh, anak itu batuk tepat ke muka saya. Dan saya orang yang malas memakai masker kecuali kalau sayanya yang lagi sakit. Jadi, segala macam virus berterbangan setiap hari di rumah sakit maupun tempat praktek saya. Kalau giliran saya yang sakit, para orangtua pasien seakan-akan memandangi saya sambil mencela: dokter kok bisa sakit, gimana mau bikin sembuh orang? Hihihi .. Saya dan teman-teman suka membandingkan hasil pemeriksaan antibodi yang rutin diperiksa kalau kita hamil. Waktu hamil anak pertama, antibodi rubella saya negatif, ternyata waktu hamil anak kedua hasilnya positif. Wah, kapan saya sakitnya ya? Kalau cuma sekedar ketularan virus batuk-pilek sih, keciiiil. Tapi kalau tertular virus HIV atau Hepatitis C? Ada satu-dua kasus teman yang tertusuk jarum setelah mengambil darah penderita HIV. Protokol untuk kecelakaan kerja seperti itu ada sih, tapi apa gak senewen bin stress, harus minum obat pencegahan selama beberapa minggu dan menanti saat pemeriksaan darah untuk menentukan nasib: tertular atau tidak?. Kasus yang lebih banyak terjadi, para penderita AIDS, khawatir dengan stigma yang ditimpakan pada mereka, menutupi penyakitnya dan tidak memberitahu dokternya bahwa sebenarnya mereka terinfeksi HIV. Jadi, berapa banyak kemungkinan tenaga medis yang karena ceroboh ataupun accident tertusuk jarum dan tidak ditangani dengan baik akibat tidak diketahuinya status HIV pasien? Jadi, kalau seperti ini, masihkah jadi dokter itu enak? Hihihi ..tanyakan saja pada rumput yang bergoyang.

Repost: High risk job


High risk job Oct 20, '08 4:51 AM. From Multiply. Apa sih pekerjaan yang paling berisiko? Penerbang pesawat tempur? Atlit terbang layang? Pendaki gunung es? Menurut saya, dokter adalah pekerjaan yang paling berisiko. Ya risiko pada konsumen alias pasien, ya risiko pada provider alias dokternya itu sendiri. Kali ini saya membicarakan risiko pada pasien. Sudah sering kita dengar ada tuntutan malpraktik. Sebenarnya sebagian besar kasus malpraktik itu bukan malpraktik dalam arti sebenarnya. Tuntutan biasanya terjadi karena pasien meninggal, pasien bertambah parah, atau pasien mengeluarkan uang yang banyak. Bukan karena dokternya lalai, tapi karena dokternya tidak berkomunikasi dengan baik pada pasien atau keluarganya. Sangat sering terjadi, keluarga tidak bisa bertemu dokter, kalaupun bertemu dokternya hanya sedikit bicara, atau dokter bersikap meremehkan dan menganggap pasien itu bodoh. Hasilnya tentu pasien menjadi tidak puas. Orang yang tidak puas tentu sangat mudah menuntut - apalagi kalau ternyata sang pasien sakitnya tidak sembuh atau malah meninggal. Profesi kedokterab tidak menjanjikan kesembuhan. Yang bisa kami berikan adalah upaya yang sesuai dengan standar profesi untuk mengupayakan kesembuhan. Tapi, kasus dokter yang lalai dan bekerja tidak sesuai dengan standar juga ada, cukup sering malah. Sebenarnya kalau masalah lalai, siapa saja bisa lalai. Supir saya yang lalai masuk jalur busway sehingga ditilang, pembantu saya yang lalai menutup keran air sehingga rumah menjadi kebanjiran, atau para pialang yang lalai mengetikkan transaksi jual beli saham sehingga menyebabkan kerugian miliaran rupiah. Tapi kalau dokter atau perawat yang lalai, duhh, rasanya tidak ada yang bisa memaafkan ya. Apalagi kalau akibat kelalaian itu pasien menjadi cacat atau meninggal. Pernah ada kasus dokter salah mengoperasi, harusnya telinga bagian kanan yang dioperasi malah bagian kiri. Pasien tidak meninggal, tidak cacat, tapi tetap saja salah. Kali lain ada perawat yang salah memberikan obat sehingga menyebabkan seorang ibu hamil keguguran, atau kasus pasien yang menjadi lumpuh akibat salah masuk rute obat. Kalau sudah begini, siapa bilang jadi dokter itu enak? Harus siap ditelfon, dikonsultasikan, dan dipanggil 24 jam. Harus langsung fully awake begitu dibangunkan agar bisa memberi instruksi obat dengan benar dan tepat. Atau kalau saya, harus siap menghitung jumlah tetesan infus atau dosis obat karena pasien anak obatnya pake dosis menurut berat badan. Gak ada cerita boleh salah dosis meskipun tengah malam begitu masih ngantuk-ngantuknya. Jadi, who wants to be a doctor?

Repost: MPP - menjadi pusat perhatian


MPP - menjadi pusat perhatian Oct 19, '08 8:10 PM. From Multiply. Dengan naik busway, dan tak perlu nyetir, banyak yang bisa saya amati di sekitar saya. Selain tingkah laku para penumpang - kebanyakan tidur atau dengerin musik using earset - saya juga mengamati pakaian para penumpang. Kebanyakan sih para karyawan atau mahasiswa. Jadi standar lah, yang prianya pakai celana kain dan kemeja - dengan atau tanpa dasi - sementara yang perempuannya pake rok atau celana dengan atasan blus - dengan atau tanpa blazer. Tapi kalau naik busway agak siang, isinya lebih beraneka ragam. Pernah suatu hari saya menjumpai seorang perempuan, cantik, layak jadi model iklan lah, naik busway dengan kostum yang agak tidak biasa untuk ukuran busway. Perempuan itu memakai baju terusan yang cukup pendek ditambah bagian atasnya agak rendah. Bisa dibayangkan, selama duduk perempuan itu sibuk mengatur duduknya agar rok pendeknya tidak terlalu naik dan tangan serta tasnya berusaha menutupi area dadanya yang tentu menjadi 'berkah' buat penumpang yang berdiri tepat di hadapannya. Hahaha, repot amat sih si mbak ini. Kalau memang mau pamer ya gak usah ditutup-tutupi gitu :P Mungkin dia belum pede. Kali lain, ada seorang perempuan, cantik juga, layak jadi peragawati, menggunakan baju setelan dengan warna jreng - FYI, roknya cukup pendek tapi bagian atas tertutup rapi. Yang menarik perhatian saya adalah sepatunya - dengan7 cms heels - yang berwarna shocking pink! Haduhh, kali ini pusat perhatian penumpang adalah kaki perempuan itu yang jenjang dengan sepatunya yang menantang! Lumayan, intermezzo di atas busway :P

Repost: Hati yang mati


Hati yang mati Oct 2, '08 10:35 AM. From Multiply. Kemarin, tepat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1429H, saya dan keluarga serta ibu menjalankan sholat Ied di Mesjid Istiqomah Bandung. Keluarga kami memang terbiasa sholat Ied di mesjid itu, terlebih karena sekarang letaknya sangat dekat dari rumah Ibu. Imam dan khatib kemarin adalah Bapak Aam Amirudin. Saya yakin banyak di antara kita yang mengenal nama Pak Aam. Topik khutbah kemarin adalah tentang qalbu atau hati. Pak Aam menyatakan bahwa, meskipun manusia memiliki penampilan fisik yang berbeda-beda, ataupun memiliki tingkat intelektual yang berbeda, tapi memiliki hati yang sama. Hati manusia pada dasarnya berada dalam tiga kondisi: hati yang mati, hati yang sakit, dan hati yang sehat. Hati yang mati memiliki ciri-ciri tidak bergeming jika diberi nasihat atau peringatan. Orang dengan hati seperti ini hanya bisa didoakan terus, atau diikhtiarkan terus (sampai dia yang duluan meninggal atau kita yang lebih dulu meninggal). Sementara orang yang memiliki hati yang sakit, susah di beri nasihat,tidak merasakan nikmat saat shalat (shalat hanya sekedar menunaikan kewajiban?). Sementara orang yang hatinya sehat, salah satu cirinya adalah selalu rindu pada Allah. Kerinduan pada Allah itu diobati dengan berkomunikasi lewat shalat dan doa. Karena itu, orang yang hatinya sehat senantiasa merasakan kenikmatan saat shalat atau berdoa, seperti curhat kepada Allah. Pak Aam dapat menyampaikan khutbahnya dengan sangat menarik. Khutbah Idul Fitri yang biasanya membuat saya terkantuk-kantuk, kali ini bisa saya simak dari awal sampai akhir, meskipun di sekitar saya banyak anak kecil yang menangis ataupun orang yang mengobrol. Anak saya yang kecil juga alhamdulillah bisa tenang selama mendengarkan khutbah, malah saat shalat dia ikut menirukan gerakan-gerakan shalat dari awal sampai akhir. Yang kocak sekaligus membuat saya terharu, anak saya yang besar, saat pulang berkata: ibu, doakan aku terus ya, karena hatiku sudah mati. Subhanallah, anak umur 8 tahun sudah bisa menyimak khutbah Idul Fitri dan meresapkannya. Mungkin dia merasa selama ini sering membantah jika dinasihati, dan malah kadang-kadang sengaja melawan perkataan saya. Buat dia, hal seperti itu sesuai dengan ciri-ciri hati yang mati yang dia dengar dari khutbah. Hehehe, mudah-mudahan anak-anak saya senantiasa terbuka hatinya seperti ini, dan menjadi anak-anak yang sholeh. Amin yaa rabbal alamin.

Repost: Busway manner


Busway manner Sep 22, '08 8:26 PM. From Multiply. Naik busway, sebagai public transportation, tentu ada tata kramanya. Tapi apa yang terjadi saat ini? Saya masih sering melihat penumpang yang rebutan untuk masuk padahal saat itu ada yang mau keluar. Lalu, masih ada penumpang yang tidak mau memberikan tempat duduknya untuk penumpang yang sudah berumur. Sebagai perempuan saya gak minta diskriminasi dengan meminta para lelaki memberikan tempat duduknya kalau ada perempuan yang berdiri. Dalam hal ini, laki dan perempuan kedudukannya sejajar (padahal, huh, kalo aja mereka jalan sama pacarnya, pasti carmuk dengan rela berdiri demi sang pacar). Tapi kalo sampe perempuan yang memberikan tempat duduk pada penumpang lansia sementara yang lelaki di sebelahnya diam-diam saja .. Grrrr .. Gemes deh!! Satu lagi yang terpenting untuk ber-busway ria, make sure you're applying sufficient deodorant .. Hahaha .. Beware, ketiak akan selalu terangkat tinggi-tinggi, hihihi ..

Repost: Busway .. no way


Busway .. no way Sep 22, '08 4:22 AM. From Multiply. Masih dalam rangka suka-duka ber-busway .. Tidak dipungkiri busway sudah menolong banyak orang yang diuntungkan oleh keberadaan busway. Di halte Ragunan, saya lihat banyak mobil dan motor parkir karena pemiliknya memilih menggunakan busway ke tempat kerja. Tapi, kadang kala naik busway itu tidak manusiawi. Kalau jam sibuk, sudah dapat dipastikan antrian di halte-halte busway sangat panjang. Di dalam busway itu sendiri sudah padat dan berdesak-desakan. Tulisan di kaca yang berisi: kapasitas penumpang maksimal 85 orang kayaknya cuma sekedar pajangan. Jadi, seringkali satu pegangan (kalo berdiri kan ada pegangan untuk tangan) dipake oleh dua orang, dan satu tiang dipeluk rame-rame .. Hehehe .. Armada busway sangat kurang. Seringkali saya memutuskan keluar dari antrian dan memilih turun dan menggunakan bajaj akibat antrian di halte yang selain berdesak-desakan juga saling dorong. Wah .. Daripada celaka, mendingan nambah Rp 10.000 deh untuk naik bajaj. Supir busway juga suka tidak manusiawi, ngebut seperti kejar setoran, lalu ngerem mendadak. Akibatnya, penumpang yang berdiri harus berjuang menahan supaya tidak sampai terjatuh. Nasihat saya untuk yang naik busway, bawalah tas yang bisa membuat kedua tangan kita bisa bebas untuk memegang (tas yg bisa diselempangkan, digantung di bahu atau ransel). Kalo satu tangan sibuk bawa tas, bisa-bisa kita gak konsentrasi untuk berpegangan. Seminggu lalu sempat ada insiden seorang bapak yang sudah berumur terjatuh dan kepala/lehernya membentur kursi, gara-gara saat busway mulai jalan bapak itu belum sempat berpegangan.walah .. Sempet deg-deg-an juga, takutnya si bapak pingsan atau kenapa, untungnya gak apa-apa. Nasihat saya lagi, kalau tidak cukup sigap untuk berpegangan, jangan coba-coba naik busway deh.Moga-moga dalam waktu dekat armada busway cepat ditambah, supirnya dimanusiawikan, supaya naik busway .. Yes way, hehehe

Repost: My way .. Busway


My way .. Busway Sep 21, '08 8:56 PM. From Multiply. Sejak pindah rumah, mau tidak mau transportasi dari dan ke tempat kerja jadi masalah. Mau bawa mobil, musti pagi-pagi sekali supaya gak macet. Mau gak macet ya harus lewat tol, itupun pasti ada bagian macetnya. Belum rebutan mobil dengan suami dan anak-anak. Akhirnya saya memutuskan untuk mencoba naik busway. Sebenernya saya males naik busway, males membayangkan berdesak-desakan dan berdiri di busway. Wahhh .. Percobaan pertama saya lakukan di hari Minggu. Dari Jagakarsa ke Salemba saya naik busway 3x, dari Ragunan sampai Halimun, dilanjut naik yang arah Pulo Gadung dan turun di Matraman, dilanjut lagi dengan arah Ancol turun di Salemba. Wah .. Lumayan juga, Rp 3500 perak bisa nyampe Salemba (bandingkan dengan berapa bensin dan tol yang harus saya keluarkan kalau bawa mobil sendiri ..). Tapi ternyata kenyamanan naik busway di hari libur tidak saya dapatkan di weekdays. Saya sempat shock melihat antrian di halte Ragunan. Wah .. Banyak sekali yang sudah mengantri. Dan karena pengalaman pertama, saya salah ngantri. Jalur yang saya ikuti ternyata jalur untuk orang yang mau buru-buru alias dapetnya berdiri. Jadilah sepanjang Ragunan - Kuningan saya berdiri. Kuningan ujung baru dapet tempat duduk. Wahh .. Next time better deh. Lalu, akibat banyak jalan kaki (di halte Ragunan, halte Matraman, dan Salemba menuju RSCM), sepatu saya langsung jebol. Padahal udah pake sepatu ternyaman yang saya punya. Forget high heels .. Hahaha .. Tapi aslinya karena pekerjaan saya menuntut saya banyak jalan, saya emang jaraaangg banget pake sepatu berhak. Saya jadi puter otak .. Gak mungkin saya pake sepatu keds atau sport shoes atau pake sendal, dan menjinjing sepatu kerja karena bawaan saya sudah cukup banyak (buku, jas, notebook). Naro sepatu di tempat kerja gak mungkin karena saya gak punya meja sendiri (berhubung lagi di tempat orang). Kesimpulannya, saya musti mengurangi jalannya nih. Akhirnya saya memutuskan di Manggarai saya turun, sambung dengan naik bemo langsung turun depan RSCM. Nambah Rp 2500 tapi hemat sepatu, hehehe. Sudah sebulan saya pulang-pergi naik busway. Lumayan menyenangkan. Di busway, karena dapet duduk, bisa tidur, baca buku, dengerin MP3 player, atau baca email dan posting di multiply seperti sekarang.

Repost: Ditilang .. twice in a day


Ditilang .. twice in a day Sep 7, '08 10:54 PM. From Multiply. Sampe jam 9.30 pagi ini .. saya sudah ditilang dua kali. Tepatnya bukan saya sih, tapi supir saya. Tilang pertama di jalan tol Cawang - Tanjung Priok. Biasanya saya keluar di Rawamangun, tapi pagi ini karena ada urusan saya mampir ke Kemayoran. Sebelum berangkat, saya sudah pesan ke supir, mau ke Kemayoran lewat tol. Eh, di Rawamangun, supir saya langsung masuk jalur untuk keluar. Spontan saya bilang, saya mau ke Kemayoran, dan spontan lagi dia berbelok kembali ke jalur cepat .. dan tentu saja jadi memotong garis .. dan tentu saja jadi santapan empuk polisi yang sudah berjaga di sana. Kalo cuma ditilang aja sih gakpapa, tapi sialnya, STNK mobil saya sedang hilang, sampai sekarang belum ketemu dan suami belum mau bikin baru karena masih mau mencari. Mobil tanpa STNK tentu fatal, jadi si polisi tidak mau cuma berurusan sama supir. Sudahlah .. mau bagaimana lagi, saya tidak punya alternatif lain selain salam tempel. Duhh .. puasa2 gini masih juga nyogok :-( Tilang kedua, perjalanan dari Kemayoran lewat Gunung Sahari. Entah ide darimana, supir saya masuk ke jalur busway. Sementara di jalur itu sudah berderet polisi yang mau menilang. Aduuuhhh .. saya udah speechless. Supir saya tau kalo saya mulai marah .. Gak mau lagi saya salam tempel. Entah dia bicara apa pada polisinya, akhirnya supir saya ditilang dan masalah STNK tidak dipermasalahkan. What a day ..

Repost: Be Thankful


Be Thankful Sep 7, '08 1:47 AM. From Multiply. Be thankful that you don’t already have everything you desire If you did, what would there be to look forward to? Be thankful when you don’t know something For it gives you the opportunity to learn Be thankful for the difficult times During these times you grow Be thankful for your limitations Because they give you opportunities for improvement Be thankful for each new challenge Because it will build your strength and character Be thankful for your mistakes They will teach you valuable lessons Be thankful when you are tired and weary Because it mean you’ve made difference It is easy to be thankful for the good things A life of rich fulfillment comes to those who are also thankful for the setbacks Gratitude can turn a negative into positive Find a way to be thankful for your troubles and the can become your blessing *dari buku wisuda .. gak tau sumbernya dari mana

Repost: Anak yang terimbas ... (3)


Anak yang terimbas ... (3) Sep 6, '08 1:50 AM. From Multiply. Wahh .. kalo mau cerita tentang anak2 yang terinfeksi HIV/AIDS .. bisa bikin sinetron dehh .. Banyak kisah-kisah di balik sakit mereka yang cukup tragis. Sebagian anak itu sudah tidak memiliki orangtua lagi. Ada yang ayah-ibunya sudah meninggal, ada yang ibunya meninggal dan ayahnya kabur saat diberitahu bahwa istrinya menderita AIDS. Anak-anak ini menjadi beban paman/tantenya, nenek-kakeknya yang sudah tua, bahkan ada yang diurus oleh nenek buyutnya karena neneknya masih bekerja, sementara ibunya yang berusia 17 tahun entah kemana. Ada yang diletakkan di muka panti asuhan dan sekarang panti asuhan itu bingung bagaimana cara merawat anak penderita HIV. Ada yang ayah ibunya masih sangat kecil (MBA ? who knows), tidak punya pekerjaan untuk biaya berobat anaknya. Yang menanggung ? Tentu keluarga besarnya, tapi kedua orangtua itu tidak berani berterus terang pada keluarganya. Ada yang diurus hanya oleh ibunya karena ayahnya sudah meninggal. Dan masih banyak lagi tragedi hidup lainnya. Kemarin baru bertemu dengan seorang anak usia 2 tahun, beratnya cuma 5 kg. Dari jauh sudah tampak kulitnya yang putih membungkus tulangnya. Napasnya sesak. Tentu saja anak itu perlu dirawat. Sempat tidak habis pikir, mengapa ibunya tega membiarkan anaknya sampai kurus kering seperti ini baru dibawa berobat. Tapi tentu saja saya tidak boleh menghakimi orangtua pasien. Mereka pasti punya alasan tersendiri yang sudah cukup membuat hidup mereka sulit tanpa perlu saya tambahi teguran. Ibunya adalah IDU dan positif HIV. Ayahnya tidak terkena. Mereka berdua masih sangat muda, baru 20 tahun. Ayahnya mungkin mulanya adalah mahasiswa, yang kemudian harus bekerja karena istrinya (pacarnya?) hamil. Mereka tinggal bertiga saja di rumah kontrakan. Waktu dianjurkan memasukkan anaknya ke RS, ibunya menolak. Tidak ada biaya (duhhh .. kalimat sakti yang bisa bikin saya pening). Saya ngobrol panjang lebar dengan ibu itu .. akhirnya dia bilang: tunggu ya dok, saya bicara dulu dengan keluarga saya. Tampaklah ibu itu sibuk mengobrol di HP. Sementara anaknya duduk di depan saya, matanya bulat dan tampak cukup besar untuk ukuran mukanya yang mungil. Istilahnya belo ya? Mengingatkan saya pada anak kucing yang kedinginan dan minta digendong. Tak berapa lama ibu itu kembali. Dok, saya mau bawa pulang anak saya. Keluarga saya tidak mau membiayai. Sudah terlalu sering anak saya masuk rumah sakit. Duhhhh .. kepala saya bertambah pening. Saya masih mencoba membujuk untuk mengurus SKTM atau jamkesmas, tapi lagi-lagi terbentur masalah administrasi. Keluarga ini tidak punya KTP dan KK DKI, dan menurut mereka, sudah mencoba mengurus tapi sulit karena dimintai biaya yang cukup besar (hhrgghhh .. sudah sering saya dengar tentang ini .. sulitnya membuat KTP DKI). Akhirnya, anak itu digendong pulang. Resep sudah di tangan, mereka tinggal mengambil obat (yang untungnya gratis disediakan pemerintah, kecuali biaya pembuatan puyernya) di Pokdisus. Saya cuma berpikir, akankah bulan depan masih bertemu anak itu? ****jika ada yang mau mendermakan sebagian rejekinya untuk anak2 malang ini, yang tertular HIV tanpa mereka mengerti mengapa .. boleh lho menghubungi lembaga-lembaga seperti Yayasan Pelita Ilmu, Pokdissus HIV/AIDS RSCM atau bisa menghubungi saya di endah182@yahoo.com, nanti saya kasitau caranya. Anak2 ini perlu susu formula (mereka tidak bisa diberi ASI) yang tentu perlu biaya, perlu pemeriksaan laboratorium, dan perlu obat-obatan selain obat gratis yang disediakan pemerintah. Berapa pun sangat membantu mereka.

Repost: Anak yang terimbas ... (2)


Anak yang terimbas ... (2) Sep 6, '08 1:07 AM Masih tentang anak penderita HIV/AIDS. Minggu ini saya baru kehilangan seorang pasien AIDS. Anak ini usianya 3 tahun, perempuan. Diadopsi oleh orangtua angkatnya sejak dia lahir. Orangtua kandungnya entah dimana. Sejak usia 1,5 tahun, mulailah anak ini sakit-sakitan. Batuk-pilek-demam berulang. Pneumonia (radang paru) berulang. Pertumbuhan dan perkembangan terhambat. Hatinya membesar. Pemeriksaan darah menunjukkan anemia dan trombosit yang rendah. Setelah dikonsul sana konsul sini, akhirnya dicurigailah menderita HIV/AIDS, dan dioperlah ke saya. Sudah dikonfirmasi, anak ini positif HIV/AIDS, dengan tingkat kekebalan tubuh yang sangat rendah. Menderita TBC paru juga, sehingga diobati dulu supaya kondisinya stabil, baru saya rencanakan untuk mendapat obat HIV. Ternyata .. kedua orangtua angkat berikut nenek kakek angkatnya bimbang. Cukup syok tentu, karena anak angkat mereka ternyata mengidap penyakit yang berat. Mereka sempat bertanya2, akankah mereka tertular dari anak ini. Pertanyaan standar para pengasuh anak HIV deh. Saya jelaskan berulang-ulang, supaya mereka tidak ragu untuk terus mengurus anak ini. Namun, anak ini lost of follow up cukup lama, hampir 6 bulan. Sesekali saya SMS ortunya, menanyakan kondisi anaknya. Mereka cuma menjawab baik-baik saja. Sampai sekitar satu bulan yang lalu, ortunya menelfon saya, minta janji untuk bertemu. Saat bertemu, anaknya sudah bertambah kurus, pucat. Hasil pemeriksaan kekebalan tubuhnya masih sangat rendah. Kedua ortunya memutuskan untuk memulai pengobatan HIV. Sebelumnya mereka sempat ragu-ragu, setelah saya diskusikan panjang lebar efek dan manfaatnya. OK, akhirnya obat dimulai. Dua minggu pertama, pasien itu datang untuk kontrol. Sangat pucat. Hb cuma 5, padahal sudah menggunakan obat yang tidak ada efek samping anemia-nya. Langsung saya suruh rawat. Kedua ortunya menolak. Sudah tidak ada biaya dok, begitu kata mereka. Duhh .. miris rasanya. Saya menawarkan berbagai alternatif pilihan, seperti mengurus SKTM (surat keterangan tidak mampu) atau kartu jamkesmas (ini kartu istilahnya ganti-ganti terus, dari mulai kartu sehat, kartu miskin, kartu gakin, kartu askeskin, dan yang terakhir jamkesmas. Buset dahhh ..). Kayaknya gak bisa. Dari penampilan maupun dari survei, pasti permintaan itu ditolak. Keluarga ini kayaknya cukup lumayan, dalam arti bisa mencukupi hidup sehari-hari, punya rumah sendiri, kedua orangtuanya bekerja. Tapi kalau untuk rawat inap, yang bisa menghabiskan uang jutaan untuk obat, pemeriksaan lab dll, ya mungkin gak punya. Dan saya punya pikiran jahat .. mungkin kah karena anak ini anak angkat ? Ah .. mudah2an bukan. Maaf kalo saya berprasangka seperti itu. Pilihan lain adalah hanya mentransfusi saja anak itu, supaya anemianya yang cukup berat itu tidak membahayakan nyawanya. Tetap ditolak. Akhirnya .. anak itu pulang. Dua minggu berikutnya, ortunya menelfon saya lagi, obat sudah mau habis. Saat bertemu dengan mereka, ortunya bercerita anaknya mulai diare, namun sudah dibawa berobat dan sudah membaik. Syukur deh .. (meski tetap saya anjurkan rawat dan tetap saja mereka menolak). Minggu depannya, ortunya menelfon lagi, anaknya diarenya timbul lagi. Saat mereka membawa anak itu, duhhh .. dia sudah lemah sekali. Saya minta rawat .. namun jawaban tetap sama. Ya sudah, saya hanya bisa memberikan resep. Tiga hari kemudian, ortunya menelfon, masih diare. Saya hanya bisa menyarankan untuk memeriksakan tinjanya dan membawa anaknya untuk dirawat (you know the answer lahh). Kemudian, dua hari lalu, ayah anak itu menelfon. Dok, anak saya sudah sesak. Tampaknya tidak tertolong. Duhhhh .. sekali lagi saya anjurkan untuk membawa anak itu ke RS. Tapi, sejam kemudian, datanglah SMS: telah berpulang anak kami tercinta .. (asli, saya meneteskan air mata saat membaca SMS itu .. anak ini lahir dan ditinggalkan oleh orangtua kandungnya, menderita penyakit yang cukup berat, dan akhirnya meninggal tanpa sempat mendapat perawatan yang layak). Tempat mu pastilah di surga ..

Repost: Anak yang terimbas .. (1)


Anak yang terimbas .. (1) Sep 6, '08 12:02 AM. From Multiply. Sudah sekitar setahun ini saya menangani kasus bayi dan anak yang menderita HIV/AIDS. Duhh .. rasanya ngilu kalau saya menjumpai mereka. Rata-rata bayi/anak itu datang dalam kondisi tulang dibalut kulit, sariawan yang penuh di mulut, perkembangannya terlambat, diare berkepanjangan, demam-demam terus .. ahh .. mengenaskan pokoknya. Sebagian besar tidak bisa melewati ulangtahunnya yang kedua (beberapa kurang dari enam bulan saat meninggal), meski ada sebagian lagi yang saat ini sudah mau remaja. Kasus bayi dan anak dengan HIV/AIDS sedang meningkat saat ini, imbas dari makin banyaknya orang dewasa yang terinfeksi HIV. Sebagian anak didiagnosis dulu mengidap HIV, baru orangtuanya diperiksa dan ternyata positif. Sebagian lain orangtuanya dulu yang sakit (atau meninggal), baru anaknya diperiksa dan ternyata positif. Bagaimana anak-anak itu bisa terkena ? Tentu saja dari ibunya. Ibunya bagaimana bisa terinfeksi? Ya berbagai cara. Ada ibu yang pengguna narkoba suntik atau IDU (injecting drugs user) yang saling bertukar jarum suntik dengan penderita HIV, ada ibu yang merupakan PSK (ini mah tau lah singkatannya apa), dann .. ini yang mengenaskan, ada ibu rumah tangga yang tertular dari suaminya. Sebenarnya, dengan kemajuan jaman, saat ini sudah diketahui cara-cara pencegahan penularan virus HIV dari ibu hamil ke bayinya. Ibunya bisa diberi obat pencegahan, ibunya sebaiknya (kalo gak bisa dibilang diwajibkan) melahirkan dengan cara operasi sesar, ibunya tidak menyusui, dan bayinya diberi obat pencegahan selama 6 minggu. Dengan tindakan pencegahan tersebut (PMTCT = prevention mother-to-child HIV transmission), bisa menurunkan risiko penularan yang cukup bermakna. What a miracle ! Yang sedihnya, belum ada upaya untuk melakukan skrining pada ibu hamil apakah dia tertular HIV atau tidak. Kalau ibu hamil ditawarkan untuk skrining TORCH (toxoplasma, rubella, CMV, Hepatitis), rata-rata setuju meskipun harga skrining itu jutaan. Tapi kalau ditawarkan untuk skrining HIV yang cuma sekitar 100ribuan, mungkin (mungkin lho ya) langsung menolak dan mengernyitkan muka: kok si dokter nuduh saya kena HIV sih, orang saya gak pake narkoba dan tidak melakukan multi partner sex (MPS). Jadi, dokter Obgyn-nya juga rata-rata keberatan untuk menawarkan skrining tersebut ke pasien-pasiennya. Padahal nih .. padahal .. siapa yang tau sih kalo pasangan kita bebas HIV ? Penderita HIV itu kan bisa tanpa gejala selama bertahun-tahun. Siapa yang ngira sih kalo pasangan kita - misal karena khilaf, atau memang karena doyan - melakukan MPS, dan sialnya dengan penderita HIV ? Jadi, di samping mendapat oleh-oleh tas bermerk dari luar negeri, kita juga dioleh-olehi virus HIV? Duhh .. knock on the wood dehh .. tapi that's reality. Beberapa pasien saya seperti itu. Ibunya adalah ibu rumah tangga yang tidak bekerja, hanya membesarkan anak semata. Jadi .. untuk para ibu hamil, mintalah skrining HIV pada dokter anda. It will save your baby's life. Biarin aja dipelototin suami, for the sake of your baby .. and yourself. HIV bisa diobati lhoo ..

Repost: Pindah sekolah ...


Pindah sekolah ... Aug 27, '08 11:05 PM Kedua anak saya sudah bersekolah. Yang besar, Raka, saat ini kelas III SD, dan yang kecil Rangga, TK kelas A. Saat ini keduanya mulai bersekolah di sekolah yang baru, karena kami sekeluarga pindah rumah. Mulanya mereka bersekolah di sekolah negeri yang cukup terkenal, karena merupakan SD Percontohan Nasional (bukan cuma percontohan tingkat propinsi atau kotamadya saja). Ada untung ruginya bersekolah di SD negeri. Keuntungannya tentu gurunya sudah banyak pengalaman, biaya lebih murah. Kerugiannya dari sudut pandang saya adalah: jumlah murid dalam kelas terlalu banyak. Teman di kelas Raka semuanya ada 40 orang. Jumlah gurunya hanya satu. Untuk anak saya yang saya diagnosis sendiri (hehe ..) sebagai ADHD (yang ringan siihh), jumlah murid yang terlalu banyak tentu merugikan. Anak saya itu tipe yang cuek (inattentive). Dia cenderung senang diperhatikan, senang bergerak, senang mengobrol. Jadi kalau dia tidak diperhatikan oleh gurunya, pasti dia langsung menghampiri temannya dan mengobrol dengan seru. Pekerjaannya di sekolah banyak yang tidak selesai. Saya sampai khusus meminta gurunya untuk menempatkan anak saya di meja paling depan. Supaya selalu terlihat oleh gurunya dan tidak mengobrol di kelas. Sebenarnya idealnya dia bersekolah di sekolah dengan jumlah murid tidak terlalu banyak. Kemudian, keluarga kami memutuskan untuk pindah rumah ke daerah Jakarta Selatan. Otomatis harus cari sekolah baru untuk anak-anak. Saya memutuskan untuk memindahkan anak-anak karena pertimbangan rasio murid yang terlalu banyak di sekolah yang lama, dan alasan jarak. Jagakarsa ke Menteng ? Wow .. musti jam berapa anak saya berangkat ? Belum lagi kalau ada ekskul sorenya .. mau nunggu di mana dia, karena gak bisa pulang dulu ke rumah. Jadi .. dimulailah proses hunting mencari sekolah. Searching internet, SMS sana SMS sini .. telfon sana telfon sini .. akhirnya saya mendapat list beberapa sekolah di seputar rumah. Saya gak mencari sekolah negeri .. bukan karena saya sekarang sudah mampu bayar sekolah swasta, hehe .. tapi saya mencari sekolah yang rasio muridnya gak banyak. Kepinginnya sih SD dan TK Islam (hehe .. ketauan ibu-bapaknya gak pede ngajarin agama ke anak .. ). Akhirnya dari sekian banyak sekolah yang saya lirik .. makin mengerucut jadi sekitar 4 sekolah. Kriteria utama adalah rasio murid, jarak tidak jauh, dan biaya terjangkau. Sebenarnya ada yang penting juga yaitu interaksi guru dan murid serta proses pengajarannya .. tapi bener2 susah deh untuk menilainya. Kriteria tambahan lain adalah halaman sekolahnya luas .. anak cowok kan senangnya lari2 ... hehe Dari 4 sekolah itu .. saya akhirnya mendaftar pada dua sekolah. Rangga yang tes masuk duluan. Alhamdulillah dia diterima di satu TK Islam. Duhh .. lega .. sudah punya sekolah. Tapi kemudian sempat bingung.. gimana kalo kakaknya (yang jadwal tes masuknya masih dua bulan lagi) gak keterima di sekolah yang sama ? Jadi harus misah-misah ? Waaa .. Saya dan suami sempet gambling sih saat memutuskan untuk membayar uang sekolah (mana uang sekolahnya berasa banget euy .. hehehe). Sudah lah .. yang penting Rangga sudah punya sekolah. Giliran kakaknya, Rakean .. wah .. rada susah juga. Dari dua SD Islam yang saya daftar, kursi yang kosong cuma satu atau dua, sedang peminat sudah sekitar lima. Tes masuk di kedua SD itu cuma beda satu minggu. Yang duluan, tes di SD yang sama dengan TK adiknya. Tapi, pengumuman yang duluan di SD yang kedua. Di SD Islam kedua ini, bahasa pengantarnya adalah Inggris. Jadi, ujian masuk juga ada soal dalam bahasa Inggris. Duh, dalam hati saya kok jadi gak sreg ya .. kasian anak saya kalo sekolah di sini. Dan ternyata bener .. anak saya gak keterima di SD Islam berbahasa Inggris ini, hehehe .. Ajaib, saya gak sedih, malah lega .. hehehe .. Minggu depannya, pengumuman di SD yang satunya. Terus terang yang ini saya berharap banget anak saya keterima, biar bisa bareng dengan adiknya, jadi saya gak pusing mikirin transportasinya. Sempet hopeless .. karena jatah kursi hanya satu sedang yang ikut tes ada lima. Tapi alhamdulillah .. ternyata anak saya diterima. Bukannya anak saya lebih pintar dari kelima anak yang lain, ternyata akhirnya sekolah memutuskan menerima empat anak! Hehe .. Beres sudah urusan sekolah .. tinggal ibu dan ayahnya yang pusing memikirkan biaya sekolah dua anak .. hehehe ..

Repost: Pindah rumah ....


Pindah rumah .... Aug 19, '08 8:24 PM. From Multiply. Beberapa minggu terakhir adalah saat yang paling heboh buat keluarga saya. Mulai awal Agustus, kami sekeluarga pindah rumah dari Kuningan ke Jagakarsa. Pindah rumah adalah peristiwa penting, yang sangat-sangat melelahkan dan cukup membuat stress. Ini adalah kepindahan saya (sejak menikah, jangan hitung yang sebelum menikah) yang keempat kali. Pertama, pindah dari Bogor. Dulu saya PTT di Bogor, jadi suami yang bolak-balik ke Karawang – waktu itu dia kerja di Karawang. Lumayan juga, Karawang – Bogor (instead of Karawang – Bekasi by Chairil Anwar .. hehe, maksa). Waktu itu kami pindah dari Bogor ke Kalibata, ke rumah dinas Ayah saya yang tidak beliau pakai. Lumayannn .. gak usah kontrak rumah, sudah ada furniture + lemari es + TV. Pokoknya .. tinggal bawa baju dan panci deh. Dari Kalibata, saya biasa memakai KRL ke Bogor maupun ke Depok (sambil S2 soalnya di UI Depok). Mau pakai bis juga gampang, tinggal didrop suami di UKI Cawang, langsung naik bis ke Bogor, Di Kalibata inilah anak yang pertama lahir. Lumayan, proses membawa bayi kecil jalan pagi gak susah, di lingkungan kompleks cukup tenang. Pindah rumah kedua, saat masa kerja Bapak habis, jadi harus keluar dari rumah dinas tersebut. Sempet ngubek2 Jakarta, akhirnya pilihan jatuh ke Cibubur. Pertimbangannya adalah dekat dengan Jagorawi (dulu belum ada tol Cipularang) maupun Cileungsi, jadi memudahkan untuk pulang ke Bandung. Cibubur saat itu masih belum begitu rame. Mall yang ada cuma mall Cibubur. Belum ada ruko-ruko sepanjang Cibubur maupun Cububur Junction. Fasilitas di sini lebih lengkap, ada kolam renang dan lapangan tennis. Jadi, anak saya bisa berenang anytime, main dengan anak tetangga sepuasnya. Sebenernya rumah Cibubur sangat ideal untuk anak saya. Tapi, setelah pindah ke Cibubur, saya kemudian sekolah lagi, kali ini di RSCM. Cibubur – RSCM cukup jauh, dan lama kelamaan Cibubur menjadi semakin macet. Meninggalkan anak umur 1.5 tahunan hanya ditemani pembantu tentu membuat saya gak tenang. Mana mulai umur segitu anak saya mulai timbul asma-nya. Akhirnya, kami memutuskan kembali pindah, mendekati RSCM. Kali ini ke daerah Kuningan, di suatu apartemen. Mulanya suami menolak habis-habisan. Tapi setelah saya yakinkan, bahwa tinggal di apartemen lebih mudah untuk transportasi (hemat BBM, mana waktu itu tol naik), fasilitas juga lengkap (ada kolam renang, lap tenis dan playground), dan terpenting adalah relatif dekat ke RSCM, akhirnya suami setuju pindah. Buat suami saya, tinggal di landed house masih menjadi keharusan, karena gak bisa pelihara binatang kalau tinggal di apartemen (burung peliharaan suami cukup banyak soalnya). Di apartemen ini lahirlah anak kedua. Sama2 laki-laki. Kedua anak saya itu tidak bisa diam. Ngubek-ngubek mainan di kamar ini, setelah itu pindah ke kamar lain untuk berantem-beranteman. Lalu, mengikuti jejak ayahnya, mereka tergila-gila pada sepeda. Otomatis saat ini jumlah sepeda yang kami punya ada 5 (punya suami, saya – yang dibelikan oleh suami tanpa persetujuan, katanya supaya bisa ikut gabung kalo dia dan anak2 main sepeda, Raka (dia punya dua, sepeda masa kecil dan sepeda yang sekarang), dan Rangga. Belum termasuk perlengkapan sepeda seperti helm, ransel, sepatu, dll. Lalu, suami saya tergila-gila juga pada tennis. Perlengkapan tennisnya juga cukup lumayan. Lalu, saya yang harus sekolah dan memang hobi baca, tentu punya koleksi buku yang bertumpuk2. Belum mainan milik anak2 yang semakin lama semakin banyak (kalau mau membuang mainan yang sudah rusak harus saat mereka tidak ada di rumah, karena lama-lama mereka mirip ayahnya, yang masih menyimpan barang2 rongsokan hanya dengan alasan sayang). Jadi, bisa dibayangkan, makin lama apartemen saya yang sudah kecil itu menjadi semakin sempit. Sudah waktunya mencari sarang yang lebih besar kan ? Sebenarnya, alasan penting lain saya ingin pindah rumah adalah anak saya yang besar bolak-balik kambuh asma dan rhinitisnya. Well, tinggal tepat di tengah kota tentu membuat debu dan polusi semakin banyak. Jadi, dengan berbekal tekad seperti itu, saya memutuskan untuk pindah. Gak mudah menentukan mau pindah ke mana. Sebenarnya saya ingin balik ke Cibubur, kembali ke rumah lama yang selama ini dikontrakkan. Tapi suami keberatan, karena kawasan Cibubur sekarang sudah sangat macet, dan kami harus tergantung pada jalan tol yang seringkali macet akibat kecelakaan, truk mogok, dll. Akhirnya, sepakat untuk mencari daerah lain selain Cibubur. Pilihan jatuh pada Jakarta Selatan. Entah kenapa, buat saya rasanya lebih enak tinggal di selatan, padahal kantor saya sekarang di Jakarta Barat. Setelah hunting yang cukup melelahkan, pilihan jatuh pada daerah Jagakarsa. Daerahnya belum rame, masih banyak pohon, dan yang terpenting harga tanah belum semahal daerah Jakarta Selatan lainnya. Oya, yang penting juga adalah, masih bisa punya KTP DKI! Hehe .. Selangkah lagi ke Cinere maupun Depok, kan, KTPnya sudah beda. Akhirnya rumah di Cibubur dijual, kami belikan rumah di Jagakarsa. Pinginnya sih ini rumah terlama kami. Gak bisa bilang ini rumah terakhir, tapi minimal kami cukup lama lah tinggal di rumah ini. Di Bogor, kami tinggal hanya selama satu tahun. Di Kalibata selama satu tahun juga. Di Cibubur, selama 1,5 tahun. Di Kuningan, selama 7 tahun. Gak terasa, dari yang asalnya menolak pindah ke Kuningan, ternyata suami betah sekali di sana. Tentu karena ada perkumpulan tenis para penghuni. Dia bisa tenis seminggu 3-4 kali bersama teman2nya. Rencana pindah dari Kuningan juga yang mula2 menentang adalah suami. Tapi karena memang sudah tidak ada space lagi untuk kami tinggal dengan semakin banyaknya barang yang kami tumpuk (sementara dia menolak untuk menjual / membuang barang-barangnya itu), akhirnya, mau tidak mau dia setuju. Akhirnya, setelah proses perencanaan yang cukup lama (susah juga ya menerjemahkan keinginan kami menjadi suatu desain rumah), mulailah rumah kami dibangun. Ternyata, proses pembangunannya juga gak kalah lamanya. Hampir di akhir pembangunan rumah, ternyata BBM naik. Wadauww .. untung kami sudah deal dan membayar harga rumah jauh sebelum BBM naik. Kalo gak, bisa-bisa rumah kami gak selesai akibat kekurangan biaya. Ternyata, developernya santai sekali. Dari rencana selesai bulan Maret, dan diberi waktu tambahan sampai bulan Mei, rumah tetap belum selesai. Padahal anak-anak sudah saya pindahkan sekolahnya mendekati ke rumah baru. Jadi terpaksa di awal tahun ajaran, anak-anak pergi dari rumah sangat pagi. Dan, akhirnya kami – dengan memaksa meski rumah belum 100% sempurna – pindah pada tanggal 4 Agustus kemarin. Jadi saat ini sudah hampir 4 minggu saya tinggal di rumah baru. Masih berdebu, masih kurang ini dan itu, masih kotor, masih berantakan, dan masih banyak masih-masih lainnya. Karena gak bisa cuti – saya harus membereskan rumah sambil kerja. Cukup bikin stress, karena di kantor work load juga lagi lumayan tinggi. Mudah-mudahan kami semua betah di rumah baru, anak-anak bisa senang karena punya halaman yang cukup luas, bisa memelihara binatang, suami bisa kembali memelihara burung (baru 4 minggu sudah ada empat burung di rumah ... huhh), dan saya .. bisa punya tempat banyak untuk menyimpan buku-buku koleksi saya.

Repost: Surabaya (3)


Surabaya (3) Jul 8, '08 5:02 AM. From Multiply. Saya ke Surabaya kali ini untuk kongres. Jadi tidak terpikir sebelumnya untuk mempersiapkan diri mencari-cari informasi obyek wisata apa yang bagus untuk dikunjungi. Dan ternyata topik kuliah dalam kongres bagus-bagus sehingga sayang kalau dilewatkan hanya untuk jalan-jalan. Tapi tidak semua berpikiran sama seperti saya. Beberapa teman tidak terlihat 1-2 hari saat kongres. Setelah ngobrol sana ngobrol sini, ternyata ada yang pergi ke Bromo, ada yang pergi ke Tanggul Angin (ini paling banyak), dan ada yang ke Malang. Wah, ini nih penyakit dokter kalo pergi kongres/seminar di kota lain. Seminarnya hanya sekilas dihadiri, tapi mainnya itu yang diprioritaskan. Meskipun tidak sempat berwisata, tapi di Surabaya saya sempat mencoba ’wisata kuliner’. Malam kedua saya diajak mbak Ina untuk ikut makan malam bersama teman-temannya saat kuliah di UNPAD (mbak Ina ini dokter umum dari UI tapi spesialisasinya di UNPAD, kebalikan dari saya). Saat itu kami makan di restoran seafood (Sea Master), cukup jauh (saya gak inget jalannya ke arah mana), makanannya standar lah. Mulanya saya menolak (males dehh .. gak ada yang saya kenal), tapi pikir-pikir daripada cari makan sendirian ya sudah .. saya ikut pergi. Lumayan kann .. kapan lagi makan gratis. Hehehe. Malam berikutnya, saya wiskul bersama teman SMA yang kebetulan sedang ada di Surabaya juga. Yang kami datangi adalah bebek goreng Tugu (tempatnya sih kaki lima mirip Pecenongan, tapi pengunjungnya rame banget, sampai ngantri. Makanannya murmer .. berkisar antara 7000 – 10.000an, dan .. ENAK (atau karena saya lapar ? hehehe). Lalu dilanjutkan makan kepiting. Saya gak inget yang ini di daerah mana. Tapi, meski bukan kepiting telor (lagi habis katanya), kepitingnya enaakkk (dan gendut, hehehe). Puas deh. Sayangnya salah seorang teman gak ikut makan, ternyata dia tidak suka bebek, dan juga alergi terhadap kepiting. Too bad. Saya sempat juga muter-muter di mall. Yang sempat saya datangi di Surabaya kali ini hanya Tunjungan Plaza (haha .. nyari mall sih di Jakarta juga ada, tapi berhubung TP ini paling dekat dari congress venue, ya mau gak mau mall ini yang bisa saya kunjungi). Saya dan mbak Ina sempat 2 kali ke TP. Pertama, sepulang kongres hari ke-3. Mbak Ina mencari hadiah minyak wangi untuk suaminya yang mau berulang tahun dan cincin berlian untuk dirinya sendiri. Hadiah karena sudah bekerja keras praktek, begitu alasannya. Hehehe. Saya sempet browsing sebentar di beberapa toko merk baju terkenal, tas/sepatu terkenal (duhh .. kalo di Jakarta toko2 seperti ini sih gak pernah saya masuki, males ah, harganya gak masuk akal), sebelum akhirnya nyangkut di department store lokal dan memutuskan juga membeli parfum untuk hadiah ulang tahun Ibu bulan Juli ini. Kunjungan kedua ke TP saat menunggu waktu pulang hari terakhir. Acara kongres selesai pukul 13, sementara pesawat ke Jakarta baru berangkat pukul 19.30. Jadilah kami menghabiskan waktu menunggu di TP karena sudah check out dari hotel pagi-pagi sekali. Kali ini acaranya cuma makan sore di Pizza Hut (see ? Pizza Hut mah di depan rumah saya juga ada, hahahaha, gak usah jauh2 ke Surabaya), dan browsing baju batik yang lagi musim itu. Sehabis itu sempat mampir ke daerah Genteng untuk membeli oleh-oleh. Yang kami datangi adalah toko Boga Jaya. Wah .. maunya sih beli semua kripik-kripik yang lucu-lucu (lho kok lucu ? Tampilannya bagus, tapi rasanya kan belum tau), tapi karena memikirkan harus membawa sendiri ke Jakarta, kami menahan diri untuk masing-masing hanya membeli satu dus kecil penganan ditambah satu dus kecil untuk oleh-oleh buat para perawat di RS. Lumayan .. sempat juga jadi ’turis’ di sela-sela kongres.

Repost : Surabaya (2)


Surabaya (2) Jul 8, '08 4:58 AM. From Multiply. Ahhh .. Surabaya. Meski sama2 di Pulau Jawa .. bisa dihitung dengan sebelah jari kunjungan saya ke kota ini. Pertama, waktu saya kecil duluuuuu. Itu pun saya sama sekali tidak ingat (berarti usia saya saat itu sekita 3-5 tahunan ya). Menurut Bapak, kami menginap di Hotel Miramar. Nama hotel itu saya ingat sampai saat ini, meski saya tidak tahu dimana lokasinya, bentuknya seperti apa. Kunjungan kedua, bersama teman2 AMP (Atlas Medical Pioneer) sekitar tahun 93-an saat akan mendaki Gunung Argopuro. Kami hanya transit di Surabaya (menggunakan KA dari Jakarta – Surabaya) karena perjalanan dilanjutkan ke kota Probolinggo. Duh, saya kok dulu macho banget yaa, sampe ikutan pecinta alam segala, naik gunung pula! Wah. Ternyata segitu aja. Jadi kali ini adalah kunjungan yang ketiga. Meski jarang ke Surabaya, kota ini menyimpan kenangan buat saya .. cieeee .. Saya pernah menjalani long distance relationship dengan mahasiswa dari UNAIR. Yang lucu, setelah dia lulus dan pindah ke Jakarta (otomatis lebih sering ketemu dong yaa), hubungan jadi berantakan dan bubar. Hahaha .. ternyata pacaran saya lebih sukses kalo berjauhan dibanding berdekatan.

Repost: Surabaya (1)


Surabaya (1) Jul 5, '08 2:12 PM. From Multiply. Tanggal 2 sampai dengan 9 Juli 2008 ini Surabaya menjadi tempat perhelatan akbar para dokter anak se Indonesia. Pada tanggal tersebut diselenggarakan 2 kongres yaitu ACPID (Asian Congress of Pediatric Infectious Diseases) tanggal 2-5 Juli dan KONIKA (Kongres Nasional Ilmu Kesehatan Anak) tanggal 5-9 Juli 2008. Jadi .. jika tanggal2 segitu anda kesulitan mencari dokter anak langganan anda .. ya maaf dehhh .. dokternya pada berterbangan ke Surabaya. Saya termasuk yang ikut terbang ke Surabaya. Tapi tidak memungkinkan bagi saya untuk meninggalkan RS sampai 8 hari .. maklum .. paling junior, harus jaga gawang (gak mungkin kaann RS dibiarkan kosong tanpa ada dokter). Jadi, diaturlah bahwa kami junior (3 orang) harus stay selama KONIKA, namun karena peminat ACPID tidak banyak, kami boleh pergi ke ACPID. Jadi, saya dan mbak Ina memutuskan untuk pergi ACPID, sementara Rifan lebih senang tinggal di Jakarta mendapatkan rejeki nomplok limpahan pasien2 teman yang lain :-) Rencana pergi ke Surabaya sudah dibuat jauh-jauh hari. Pendaftaran dilakukan online .. biaya ditransfer pake ATM, bukti ATM difax ke panitia, panitia kemudian mengirimkan bukti registrasi by email. Simple dan mudah. Pemesanan kamar hotel juga dilakukan online lewat panitia. Saya dan Mbak Ina sepakat berbagi kamar supaya lebih murah (lagian .. mana berani kita tidur sendiri-sendiri, hehehe). Tinggal satu lagi masalah. Transportasi. Akhirnya setelah browsing sana-sini, kami memutuskan untuk naik Merpati. Pertimbangannya .. Merpati lebih murah dari Garuda, namun mutunya lumayan lah dibanding merk2 maskapai yang gak dikenal lainnya. Jadi .. kami segera menelfon layanan reservasi Merpati, memesan tiket pesawat PP Jkt-Sby-Jkt. Karena menelfon jauh2 hari (empat bulan dari rencana keberangkatan), maka masih banyak seat yang tersedia. Tidak lupa menanyakan promo yang sedang berlangsung. Wahh .. gak dinyana gak dikira .. akhirnya saya bisa mendapatkan promo tiket Merpati Jkt-Sby PP seharga Ro 500ribuan. Harga tiket aslinya sekali jalan adalah sekitar 600ribuan. Tapiii .. syarat dari tiket murah itu adalah tidak bisa di-refund, cancel, pindah jadwal, dlsb. Artinya, kalo gak bisa terbang ya hangus. Lagian, memesan tiket seperti ini ada syaratnya: tiket harus dibayar dan diambil dalam waktu 2 jam.Waaa .. jadilah saya terbirit2 mengambil uang ke ATM, minta tolong sekretaris bagian untuk pergi ke kantor Merpati di Jl Angkasa menggunakan motor (wah, kalo pake mobil gak bisa nyampe 2 jam). Walaupun heboh .. tapi akhirnya tiket sudah di tangan. Teman2 lain yang mulanya santai2 belum memesan tiket pesawat ..jadi ikut-ikutan. Ada teman yang beberapa hari kemudian ikut memesan tiket promo .. ternyata harganya sudah naik jadi 600ribu PP. Wah. Akhirnya, berangkatlah saya ke Surabaya. Jadwal pesawat berubah-ubah .. dari jadwal semula pukul 16.30, bulan Mei dimajukan jadi pukul 14.10. Pagi-pagi sebelum berangkat, saya telfon kembali Merpati, ternyata diinformasikan bahwa hari ini pesawat di-reschedule menjadi pukul 17.10. Yaaahhh .. mundur lagi deh. Tapi kami memutuskan untuk menunggu di RS dan baru berangkat pukul 15 ke airport. Sampai di airport saat check in .. ternyata petugas merpati menginformasikan lagi pesawat didelay sampai jam 19.10. Haduuuhhh .. menyebalkan. Jadilah saya musti menunggu 4 jam di airport (kalo nunggu di Changi mungkin enak ya? ). Akhirnya, jam 19.00 boarding .. masuk pesawat. Di pesawat ada insiden yang tak kalah hebohnya. Ada rombongan keluarga yang terbang ke Surabaya membawa seorang kakek dengan kursi roda dan .. parahnya .. membawa tabung oksigen yang kecil/portable ke dalam pesawat!! Kakek tersebut ternyata penderita kanker paru yang baru berobat ke Jakarta, dan karena sudah tidak bisa disembuhkan lagi dibawa pulang ke Surabaya. Karena itu kakek tersebut perlu oksigen supaya tidak sesak. Setau saya .. oksigen portable seperti itu tidak boleh dibawa masuk ke dalam pesawat. Saya jadi ingat pengalaman saya membawa ayah (bapak) saya ke Singapore karena stroke dan pneumonia. Saat itu saya menggunakan Garuda, dan peraturan Garuda tidak membolehkan saya membawa oksigen, namun bila diperlukan, dapat menggunakan tabung oksigen dari pesawat. Mbak Ina juga mengamini .. bahwa tabung oksigen dapat meledak apalagi ada perbedaan tekanan udara saat terbang nanti (CMIIW yaa). Namun karena keluarganya keukeuh membawa oksigen dan pramugari tidak bisa melarangnya.. akhirnya tabung oksigen itu tetap dibawa naik pesawat. Sepanjang perjalanan kami yang duduk di sekitar tabung itu menjadi gelisah. Mbak Ina malah menganjurkan tabungnya ditutup saja, toh kakek itu tidak tampak sesak dan saat ditanya juga bilang ia tidak sesak. Alhamdulillah .. lain-lainnya berjalan lancar. Sampai di Surabaya jam 21 malam .. check in di hotel .. dan tidur.

Repost: Perpisahan kelas, Pentas Seni, dll


Perpisahan kelas, Pentas Seni, dll Jun 23, '08 6:34 AM. From Multiply. Sekarang akhir tahun ajaran .. pasti para ibu dan bapak sibuk .. selain sibuk dengan ujian/ulangan akhir semester .. juga pasti sibuk dengan acara pentas seni atau pesta perpisahan di sekolah anaknya masing. Saya gak tau kalo di sekolah swasta. Ini cerita di sekolah anak2 saya, yang judulnya sekolah negeri. Tiap akhir tahun, sekolahnya bikin pentas seni atau perpisahan sekolah. Tempatnya, harus di gedung pertemuan. Kadang di ballroom hotel. Isi pentas seninya apa ? Ya nyanyi2.. menari .. puisi .. dan HARUS ada artisnya. Meski bukan artis ngetop (minimal sekelas bintang AFI junior gitu deh), tapi tetep harus ada artis. Anak2 saya sih excited. Mereka senang latihan menyanyi atau menari. Lalu pake kostum yang lucu2. Tapi mereka sih gak peduli akan menari di gedung mana, atau apakah ada artis atau tidak. Yang penting, mereka punya kesempatan untuk menyanyi dan menari disaksikan oleh saya dan/atau ayahnya. Selesai menyanyi dapet goodie bags. Lalu pulang ke rumah. Titik. Jadi .. buat apa sewa gedung mahal, sewa artis, .. belum para panitianya yang janjian pake (beli?) kostum yang seragam. Aduuuuhhh .. keliatan banget kan .. yang berambisi sih para ibu-ibu/bapak-bapaknya. Saya sih cuma bisa mendumel dalam hati .. soalnya saya gak pernah terlibat dalam ngobrol-ngobrol sambil nungguin anak sekolah (walah .. mana sempat?!), jadi otomatis gak pernah dimintai pendapatnya. Paling banter dimintai sumbangannya aja, hehehe. Cuma, buat saya yang tau banget susahnya cari uang .. rasanya anak2 kita perlu deh diajari untuk hidup sederhana dan hemat oleh kita para orangtuanya. Mendingan dana buat sewa gedung seperti itu dibagikan saja untuk para gurunya, supaya gak ada lagi proyek2 les tambahan buat murid SD. Huh .. cape dehhh.

Repost: Sakit dan bermalas2an


Sakit dan bermalas2an ... Jun 13, '08 1:09 AM. From Multiply. Pagi ini bangun dengan kepala pusing, badan pegal. Waahhhh ... Sudah dua hari saya pilek, disertai sedikit batuk, kadang nyeri tenggorokan. Bener-bener ciri khas common colds atau selesma. Dua hari kemarin saya masih bertahan untuk masuk kerja. Badan masih segar meski hidung terus-menerus meler/tersumbat dan bersin. Tapi kemarin sore saat sedang les dan mengerjakan tugas dari guru les, kok rasanya gak bisa konsentrasi ya? Akhirnya saya minta ijin pulang lebih awal. Lagian saya khawatir menularkan virus pada teman2 yang lain, soalnya ruang lesnya sangat sempit dan ber-AC. Virus dari saya tentu sangat mudah menular. Setelah pulang les sebelum waktunya, saya juga memutuskan untuk tidak praktek. Sepulang ke rumah, menemani anak belajar sebentar (untung ayahnya cepat pulang), lalu saya tidur, sampai pagi ini. Akibat perasaan lemasss .. saya memutuskan untuk istirahat di rumah. Besok saya harus presentasi, ada janji yang harus ditepati. Masak saya presentasi dengan suara bindeng dan terbatuk2. Saya harus sembuh. Caranya sembuh? Ya istirahat. Langkah pertama: SMS boss .. beliau sudah tahu saya sakit (dari kemarin suara saya sudah bindeng dan kemana-mana pake masker). Jadi, ijin pasti keluar dengan mudah. Benar saja, boss replied: Ya, cepat sembuh. Langkah kedua, SMS teman, soalnya saya hari ini bertugas di Poli Aster. Untungnya, partner saya di Poli Aster hari ini orangnya rajin. Jadi, pasti no problem. Benar saja, datang jawaban SMS: OK. Waaahhh .. sukses deh saya hari ini. Bisa istirahat dengan tenang. Setelah anak2 & suami pergi .. tinggallah saya di rumah. Senangnya bisa istirahat sejenak. Baca koran (biasanya saya baca koran sore/malam hari sepulang kerja .. haha .. beritanya sudah basi), sarapan (biasanya sarapan ala kadarnya, kadang tidak sarapan), minum vitamin, lalu meneruskan membuat presentasi untuk besok. Tinggal finishing saja. Tengah asyik mengetik .. tiba2 HP saya berbunyi. Hm .. dari RS nih. Palingan dari poliklinik. Gampang, tinggal bilang saya gak masuk, pasien dialihkan ke teman saya. Begitu saya angkat, matilah saya .. ternyata dari sekretaris Direktur. Ternyata Direktur Medis mencari saya. Seumur saya kerja, baru kali ini saya ditelfon langsung oleh Pak Direktur. Haduhh .. dengan suara yang dibindeng-bindengkan (pokoknya dikeluarkan suara bindeng terparahnya dehh), saya menjawab telfon Pak Direktur. Ternyata tentang tugas untuk me-revitalisasi tim HIV. Oalaahh .. kenapa musti hari ini beliau teringat dengan tim tersebut. Nasib .. saya memang gak pernah dapet good luck kalo masalah bolos atau tidak masuk kerja. Untung menurut beliau, tugas tersebut tidak urgent hari ini, bisa dikerjakan Senin. Syukur deh ... Jadi ..... kembali bermalas2an à¸Ã ¹Ã ¸­Ã ¸Ã ¸«Ã ¸Ã ¹Ã ¸²: Dokter yang ditolak pasien: true story à¸Ã ¸±Ã ¸Ã ¹Ã ¸: Perpisahan kelas, Pentas Seni, dll Jun 13, '08 1:09 AM. From Multiply. Pagi ini bangun dengan kepala pusing, badan pegal. Waahhhh ... Sudah dua hari saya pilek, disertai sedikit batuk, kadang nyeri tenggorokan. Bener-bener ciri khas common colds atau selesma. Dua hari kemarin saya masih bertahan untuk masuk kerja. Badan masih segar meski hidung terus-menerus meler/tersumbat dan bersin. Tapi kemarin sore saat sedang les dan mengerjakan tugas dari guru les, kok rasanya gak bisa konsentrasi ya? Akhirnya saya minta ijin pulang lebih awal. Lagian saya khawatir menularkan virus pada teman2 yang lain, soalnya ruang lesnya sangat sempit dan ber-AC. Virus dari saya tentu sangat mudah menular. Setelah pulang les sebelum waktunya, saya juga memutuskan untuk tidak praktek. Sepulang ke rumah, menemani anak belajar sebentar (untung ayahnya cepat pulang), lalu saya tidur, sampai pagi ini. Akibat perasaan lemasss .. saya memutuskan untuk istirahat di rumah. Besok saya harus presentasi, ada janji yang harus ditepati. Masak saya presentasi dengan suara bindeng dan terbatuk2. Saya harus sembuh. Caranya sembuh? Ya istirahat. Langkah pertama: SMS boss .. beliau sudah tahu saya sakit (dari kemarin suara saya sudah bindeng dan kemana-mana pake masker). Jadi, ijin pasti keluar dengan mudah. Benar saja, boss replied: Ya, cepat sembuh. Langkah kedua, SMS teman, soalnya saya hari ini bertugas di Poli Aster. Untungnya, partner saya di Poli Aster hari ini orangnya rajin. Jadi, pasti no problem. Benar saja, datang jawaban SMS: OK. Waaahhh .. sukses deh saya hari ini. Bisa istirahat dengan tenang. Setelah anak2 & suami pergi .. tinggallah saya di rumah. Senangnya bisa istirahat sejenak. Baca koran (biasanya saya baca koran sore/malam hari sepulang kerja .. haha .. beritanya sudah basi), sarapan (biasanya sarapan ala kadarnya, kadang tidak sarapan), minum vitamin, lalu meneruskan membuat presentasi untuk besok. Tinggal finishing saja. Tengah asyik mengetik .. tiba2 HP saya berbunyi. Hm .. dari RS nih. Palingan dari poliklinik. Gampang, tinggal bilang saya gak masuk, pasien dialihkan ke teman saya. Begitu saya angkat, matilah saya .. ternyata dari sekretaris Direktur. Ternyata Direktur Medis mencari saya. Seumur saya kerja, baru kali ini saya ditelfon langsung oleh Pak Direktur. Haduhh .. dengan suara yang dibindeng-bindengkan (pokoknya dikeluarkan suara bindeng terparahnya dehh), saya menjawab telfon Pak Direktur. Ternyata tentang tugas untuk me-revitalisasi tim HIV. Oalaahh .. kenapa musti hari ini beliau teringat dengan tim tersebut. Nasib .. saya memang gak pernah dapet good luck kalo masalah bolos atau tidak masuk kerja. Untung menurut beliau, tugas tersebut tidak urgent hari ini, bisa dikerjakan Senin. Syukur deh ... Jadi ..... kembali bermalas2an

Repost: Dokter yang ditolak pasien: true story


Dokter yang ditolak pasien: true story Jun 8, '08 3:09 AM. From Multiply. Ditulis 9 Maret 2007 di blog lain Teman2 yang berprofesi dokter mungkin ada yang pernah mengalami apa yang saya alami hari ini: pasien pindah ke lain dokter ! Haha, itu nasib yang memang harus dialami dokter baru yang belum punya nama. Tapi yang namanya perasaan 'gimanaaa gitu' pasti ada. Sebenernya saya 100% sadar diri dan rela kalo pasien pindah ke lain dokter. Parahnya, ada kebijakan tak tertulis di antara sejawat yang lain bahwa tidak boleh ada alih rawat pasien atas permintaan pasien sendiri. Niat kesepakatan itu sih baik, mencegah 'berantem' atau 'saling tidak enak' antar teman sejawat hanya gara2 uang visit yang tidak seberapa. Tapi bagi saya, kesepakatan itu menyulitkan. Sudah jelas2 ada surat pernyataan 'penolakan' alias minta pindah ke dokter lain, tapi dokter lainnya itu tidak mau (cuma mau mendampingi saja), jadi terpaksalah saya menebalkan muka meneruskan visit (daripada pasien terlantar) meski rasanya gak keruan. Gimana nggak, udah ditolak tapi 'keukeuh' visit (kesannya maksa banget pengen terus merawat,hehe). Nasib, nasib.

Repost: Kenapa dokter jarang mengucapkan terima kasih pada pasien ?


Kenapa dokter jarang mengucapkan terima kasih pada pasien ? Jun 8, '08 3:01 AM. From Multiply. Ditulis 30 Januari 2007 di blog lain - berhubung blog-nya udah gak pernah saya buka lagi .. saya pindahin ke sini aja ya. Saya mendapat kesempatan untuk bekerja di suatu rumah sakit swasta di Jakarta. Rumah sakit ini totally profit oriented, jadi customer oriented banget. Para perawat diajari cara berdandan dan berperilaku ramah pada pasien (sampe datengin konsultan kepribadian setingkat JRP, hehe). Nah, sekarang giliran dokter-dokternya yang di-upgrade. Kalo dokter senior .. ya, gak mungkin lah diceramahin. Jadi dokter2 'baru' seperti saya yang 'mendapat kesempatan' di-upgrade. Ada satu topik yang diingatkan oleh Direktur RS saya. Kenapa dokter jarang mengucapkan terima kasih pada pasien? Topik itu berasal dari diskusi di sebuah milis yang diforward ke beberapa dokter oleh Direktur RS. Mulanya saya membacanya dengan asal-asalan (mikir .. aneh banget sih topiknya). Ternyata setelah saya baca lagi .. cukup menarik. Saya ingin membagi topik ini, mudah-mudahan bisa menjadi inspirasi. Diskusi di milis itu bermula dari suatu pertanyaan (dari seorang dokter), kenapa dokter jarang mengucapkan terima kasih pada pasien. Dokter itu berpendapat bahwa seorang pasien sudah memberikan imbalan berupa uang pada dokter, dan sudah seharusnya dokter berterima kasih pada pasien tersebut. Dokter lain menanggapi, bahwa pasien lah yang memerlukan keahlian dokter sehingga wajar pasien yang berterima kasih dan memberi imbalan (uang) pada dokter, yang biasanya akan dibalas oleh dokter: sama-sama atau terima kasih kembali. Ada satu email yang akhirnya bisa menjawab polemik tadi. Berikut kutipan email dari diskusi tersebut: Dear All, Menurut saya, ucapan terimakasih sebaiknya dilakukan dengan kerelaan dan ketulusan, bukan karena keterpaksaan. Sejak kecil kita diajarkan utk pandai-pandai berterimakasih, dan kebiasaan berterima kasih itu akan terus terbawa sepanjang hidup kita. Saya jadi ingat, sahabat saya, seorang Dokter Spesialis yang sangat senior, juga seorang petinggi dan akademisi yang sangat dihormati dilingkungan fakultas, penguji Nasional PPDS, dan sederet lagi jabatan2 penting yang dipegangnya. Yang menarik, saya melihat beliau ini adalah salah satu contoh orang yang sangat pandai berterima kasih dan selalu mengerti alasan kenapa beliau mengucapkan terima kasih. Dan saking seringnya saya bergaul dengan beliau, saya jadi melihat bagaimana "terima kasih" telah menjadi kebiasaan dan bagian dari keseharian hidup beliau, dan saya pernah berdiskusi dengan beliau ttg hal ini. Beberapa contoh2 sederhana yang saya amati dari beliau saat berterim kasih, sbb: Pada saat turun dari mobil, beliau mengucapkan terima kasih (dengan tulus) kepada sopirnya. Alasan beliau kenapa berterimakasih? : Meski sudah menggaji sopir itu, beliau merasa berterimakasih karena sopirnya telah mengantar beliau, menjalankan mobil dengan hati-hati sehingga beliau selamat di tujuan. Pada saat mahasiswa peserta PPDS telah mengirimkan email, baik itu tugas-tugas kuliah dan bahan ujian profesi utk beliau periksa, beliau membalas email dengan kalimat : "Email sudah saya terima. terima kasih." Pada saat mengajar, dan memberikan pertanyaan kepada residen, ada residen yg menjawab pertanyaan itu secar panjang lebar. Sebelum menanggapi dan meluruskan jawaban itu, beliau ucapkan dengan tulus dan spontan : "Terima kasih. " (karena residen itu telah menjawab dengan segala usaha dan kemampuannya) Pada saat selesai berdiskusi dengan saya dan teman2 sejawat, beliau mengakhiri dengan : "OK, terima kasih ya.." atau "OK, thanks.." (karena beliau merasa kami telah memberikan waktu dan memberikan masukan2/saran/ pendapat) . Setelah selesai makan di restoran dan membayar bill, beliau mengucapkan terima kasih dengan tulus kepada pegawai restoran/kasir/ waiter yang mengantarkan kembali bill atau kartu kredit kepada beliau. Di ruang konsultasi, beliau berterima kasih kepada pasien setelah pembicaraan/ session konsultasi selesai. Bukan semata-mata karena uang yang telah diterimanya, tapi karena kepercayaan pasien yang telah datang kepadanya. Dan masih banyak lagi ucapan terima kasih yang beliau berikan kepada orang-orang di sekitarnya, baik itu kepada detailer, kepada tukang rumput, kepada loper koran, kepada satpam rumah sakit, kepada teller di bank, sopir taksi, dll yg tidak mungkin saya sebutkan satu per satu di email ini. Jadi, ucapan terimakasih itu bukan saja hanya karena telah menerima uang atau pemberian yang berupa materi. Ucapan terimakasih bisa juga karena hal-hal yang tidak bisa terukur dengan materi. Ucapan terima kasih bukan berarti membuktikan bahwa posisi seseorang lebih rendah atau lebih dibawah daripada orang yang diberikan ucapan terima kasih, tetapi Ucapan terima kasih menunjukkan kerendahan hati, dan sikap penghargaan kita kepada sesama manusia, apapun posisi dan profesinya. Seperti sahabat saya, dokter senior yang saya ceritakan di atas, dengan berterima kasih kepada orang-orang disekitarnya, orang-orang itu merasa "dihargai", dan sebagai dampaknya (baik langsung maupun tidak langsung), orang-orang itupun jadi SEMAKIN menghargai beliau. Pada saat menghadiri seminar nasional dan menjadi pembicara di berbagai tempat, saya lihat banyak sekali dokter-dokter menghampiri dan menyambut beliau, dan menyapa beliau dengan penuh rasa hormat.Ternyata itu karena mereka semua merasa dihargai oleh beliau sewaktu dulu mereka menjadi residen beliau atau diuji oleh beliau. Sopir beliau selalu senang mengantar beliau kemanapun beliau pergi; Petugas satpam selalu senang membukakan pintu saat beliau masuk di RS; Detailer dan pasien ramai mengunjugi tempat praktek beliau tiap hari; Tukang rumput membersihkan taman di rumahnya dengan senang hati; Tukang Lumpia selalu menyambut beliau dengan senyuman saat beliau mampir dan membeli lumpia goreng di warungnya. Pada saat beliau sakit dan sempat dirawat di RS, berduyun-duyun orang datang membezuk beliau sampai pihak RS kewalahan oleh banyaknya orang yang datang dan mendoakan kesembuhan beliau. Dan masih banyak lagi, itu semua karena mereka semua merasa telah "dihargai" oleh Pak Dokter itu dengan ucapan dan sikap terimakasih yang tulus dan ikhlas. Dan Pak Dokter itu tidak kehilangan sedikitpun status nya, harga dirinya, posisinya, respect masyarakat kepadanya, hanya karena beliau telah mengucapkan terima kasih kepada mereka. Justru orang-orang semakin respect dan menghargainya. Saat pasien datang pada kita, kita mengucapkan terimakasih. Dengan ucapan terima kasih itu, pasien merasa eksistensinya dihargai, Dengan ucapan terima kasih, pasien tahu kita menghargainya. Saat pasien merasa dihargai, pasien semakin menghargai kita. Saat pasien menghargai kita, dia akan mendengarkan nasihat2 kita. Dengan terima kasih yg tulus, Pasien ikhlas atas jumlah uang/biaya konsultasi yang telah kepada dokter, Karena pasien ikhlas, uang itu akan menjadi berkat bagi kita. Saat pasien ikhlas dan senang, maka dia ikhlas menebus obat, dia ikhlas melakukan petunjuk2 dan minum obat secara teratur. Dengan begitu pasien sembuh. Pasien sembuh, ada kepuasan pribadi di dalam diri kita. Kita senang pasien sembuh. Pasien akan semakin percaya kepada kita, dan dia akan dtg kepada kita lagi, utk berkonsultasi lagi kalau ada gangguan kesehatan pada dirinya. Dengan semuanya itu, Hubungan dokter dan pasien akan menjadi lebih harmonis. Cukup satu kata: "terimakasih" , namun bisa membuat hubungan dokter dan pasien menjadi lebih baik. Bukan karena uang yang telah dibayarkan, tapi karena keikhlasan kedua pihak utk bisa saling menghargai. Memang tidak gampang utk bisa melakukan seperti itu. Diperlukan sikap rendah hati dan kebesaran jiwa utk mampu mengucapkan terima kasih dalam segala hal spt itu. What do you think ?

Repost: Lingkar pinggang ....


Lingkar pinggang .... Jun 8, '08 2:06 AM. From Multiply. Terinspirasi dari usaha orang lain (dan saya? hehehe) untuk langsing dengan berbagai cara .. saya jadi ingat lingkar pinggang saya. Wah .. berapa ya lingkar pinggang saya ? Udah lama gak pernah mengukur .. tapi saya yakin seyakin-yakinnya lingkar pinggang saya gak mengecil .. cenderung melaaarrr. Duh. Langsung saya cari meteran (biasanya saya pake untuk mengukur lingkar kepala anak, hehe), saya lingkarkan di pinggang, dan saya baca: X cm (hahaha .. rahasia atuh .. lingkar pinggang kan termasuk ukuran yang tidak boleh dipublish selain kepada penjahit baju). Yang jelas, sudah warning sign euy. Bukan lampu kuning lagi .. tapi lampu merah!!! Kenapa sih saya ribut2 dengan ukuran lingkar pinggang? Apa gak cukup pusing dengan timbangan berat badan saja ? Lingkar pinggang mencerminkan seberapa banyak lemak yang menumpuk di tubuh kita. Berat badan, belum tentu mencerminkan lemak, karena bisa juga berat badan dipengaruhi oleh massa otot dan tulang. Jadi atlit2 yang berotot six-pack (huhuyyy) mungkin beratnya bisa sama dengan berat ibu-ibu yang kelebihan lemak. Lalu, apa bahayanya lingkar pinggang yang berlebih? Ternyata, lingkar pinggang yang berlebih dapat mengindikasikan adanya sindrom metabolik (metabolic syndrome). Sindrom metabolik memiliki ciri-ciri adanya sekelompok faktor risiko metabolik pada seseorang. Hal ini meliputi: Obesitas pada perut (berlebihnya jaringan lemak pada dan sekitar perut) Atherogenic dyslipidemia (gangguan pada lemak darah – trigliserid yang tinggi, kolesterol HDL yang rendah dan kolesterol LDL yang tinggi – yang mempercepat penumpukan plak pada dinding pembuluh darah arteri) Peningkatan tekanan darah Resistensi insulin atau intoleransi glukosa (tubuh tidak dapat menggunakan insulin atau gula darah secara tepat/sesuai) Kondisi protrombotik (misalnya fibrinogen atau plasminogen activator inhibitor-1 yang tinggi di dalam darah) Kondisi proinflamatori (misalnya peningkatan C-reactive protein dalam darah) Orang dengan sindrom metabolic memiliki risiko yang lebih tinggi untuk terjadinya penyakit jantung koroner dan penyakit lain yang berhubungan dengan penumpukan plak di dinding arteri (misalnya stroke dan penyakit pembuluh darah tepi – peripheral vascular disease) dan diabetes tipe 2. Bagaimanakah mendiagnosis sindrom metabolik? Kriteria menurut The American Heart Association dan the National Heart, Lung, and Blood Institute merekomendasikan bahwa sindrom metabolik diidentifikasi dari adanya tiga atau lebih komponen berikut: Peningkatan lingkar perut: laki-laki sama atau lebih besar dari 102 cm, perempuan sama atau lebih besar dari 88 cm Peningkatan trigliserid: sama atau lebh besar dari 150 mg/dL Berkurangnya kolesterol baik (HDL): laki-laki kurang dari 40 mg/dL, perempuan kurang dari 50 mg/dL Peningkatan tekanan darah: sama atau lebih dari 130/85 mmHg Peningkatan gula darah puasa: sama atau lebih dari 100 mg/dL Nah .. jadi, coba kita ukur ulang lingkar perut kita, lalu lihat hasil laboratorium saat medical check up terakhir. Apakah sudah bisa dimasukkan ke dalam sindrom metabolik? Trus .. kalo sudah masuk ke sindrom metabolik, apa yang harus dilakukan? Tujuan utama yang perlu ditargetkan jika kita memiliki sindrom metabolik adalah menurunkan risiko penyakit kardiovaskular dan diabetes tipe 2. Jadi, yang harus dilakukan adalah: stop merokok dan turunkan kolesterol LDL, tekanan darah dan kadar gula darah sampai mencapai batas yang direkomendasikan. Untuk itu, intervensi terpenting adalah pada lifestyle. Intervensi lifestyle meliputi: Penurunan berat badan untuk mencapai berat yang ideal (BMI kurang dari 25 kg/m2) Meningkatkan aktivitas fisik, sedikitnya 30 menit aktivitas dengan intensitas sedang pada hampir setiap hari (dan bukan cuma sekali seminggu saat weekend, hehehe) Pola makan yang sehat yang meliputi mengurangi asupan lemak jenuh, lemak trans, dan kolesterol. Jadi .. kesimpulannya: kurangi pemakaian mobil (yang mau bike to work silakannn … sangat ideal sekali, atau turun satu halte dari yang seharusnya, dilanjutkan jalan kaki), dan setelah aktivitas fisik jangan langsung balas dendam dengan makan lontong kari dengan kuah santan yang kental .. hahaha .. mendingan jadi orang Sunda aja deh .. makan lalapan sepanci juga aman, asal gak dsertai jeroan sebagai lauknya J Hm .. jadi lapar. Lho .. ?

Repost: Mengapa saya bisa terinfeksi ?


Mengapa saya bisa terinfeksi ? Jun 5, '08 12:33 PM. From Multiply. Hari ini saya mendapat lagi satu kasus anak dengan HIV-AIDS. Seperti sudah bisa diperkirakan, kasus HIV menjadi semakin merebak di negara kita. Secara epidemiologi, negara kita termasuk negara dengan insidens yang paling cepat bertambah di dunia (fastest growing), meskipun secara total jumlah penderita HIV di Indonesia masih kalah jauh dari negara lain di Asia dan Afrika. Kasus HIV pada anak/bayi merupakan puncak gunung es dari seluruh kasus yang ada. Bayangkan .. jika ada anak yang menderita HIV, bisa dipastikan ibu dan ayahnya juga terkena. Iyalah .. anak/bayi kan gak ada yang injection drug user (IDU) atau sexually active. Hampir semua anak yang terinfeksi HIV mendapatkan virus itu dari ibunya saat hamil, melahirkan, atau saat menyusui. Yang menyedihkan .. sementara ibu dan ayahnya segar bugar tanpa menyadari mereka sudah terinfeksi, anaknya sudah mulai timbul gejala AIDS sejak usia dini akibat sistem pertahanan tubuhnya yang lebih lemah dibanding orang dewasa. Selain itu, angka kematian akibat HIV pada anak lebih tinggi dibandingkan pada dewasa. Mungkin, kalau anak itu bisa bicara dan protes .. ia akan mempertanyakan .. mengapa saya bisa terinfeksi HIV? The babies are never asked to be born .. it is our responsibility to prevent the babies from being infected .. please ask your doctor about PMTCT - prevention of mother-to-child transmission if you or your wife are pregnant. PMTCT can decrease the risk of HIV transmission. Please save your baby.

Respot: Pantai favorit


Pantai favorit Jun 4, '08 11:45 AM. From Multiply. Sedang chatting dengan teman lama .. ngalor-ngidul gak ada isinya .. tau-tau membicarakan pantai. Hm .. seru juga ya kalau bisa liburan ke pantai. Lalu kami membanding-bandingkan pantai mana yang paling asik untuk berlibur. Disusunlah sebuah daftar pantai favorit baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Rencananya daftar ini akan saya evaluasi lagi 10 tahun lagi, mana saja yang berhasil didatangi. Sebenarnya sih pantai bukan tempat berlibur favorit buat saya. Saya lebih suka jalan-jalan di pegunungan, atau melihat peninggalan budaya atau museum. Tapi, boleh juga sih pantai dijadikan tujuan berlibur .. minimal untuk liat orang yang lagi berjemur, atau hunting seafood :-) Berikut daftar pantai favorit hasil diskusi tadi : Hawaii, Copacabana di Rio de Janeiro, Cancuun di Mexico, Sanur di Bali, Goldcoast di Australia. Silakan .. kalau ada yang mau menambahkan .. untuk tambahan referensi ..

Repost: Sakit: mengapa berbeda?


Sakit: mengapa berbeda? Jun 3, '08 11:11 AM. From Multiply. Re-writen .. meski jadinya beda karena atmosfirnya udah beda .. hiks .. gara2 gaptek .. Akibat profesi, saya harus menghadapi orang sakit setiap hari. Dari sakit yang ringan, sakit berat .. sampai yang meninggal. Pengalaman pertama saya menghadapi pasien meninggal adalah saat saya jaga pertama kali waktu ko-ass dulu di RSHS. Saat itu saya jaga di IGD. Seorang laki-laki dewasa mengalami gagal jantung. Kematiannya membuat saya termenung cukup lama. Pertama kali jaga .. pertama kali pula menghadapi pasien meninggal. Apalagi melihat tangisan keluarga yang ditinggalkan. Duhh .. As time goes by .. saya menjadi terbiasa, tidak lagi melibatkan emosi dalam menghadapi pasien. Tapi saat lulus .. saya sempat bertekad untuk tidak bekerja di rumah sakit lagi. Saya tidak tahan dengan suasananya yang suram, sedih, penuh tangisan keluarga yang ditinggal mati .. bikin depresi lah. Tapi panggilan hati ternyata berkata lain. Akhirnya saya kembali bekerja di RS .. sampai detik ini. Kembali saya menghadapi pasien yang sakit, tapi bedanya kali ini yang saya hadapi anak-anak. Awalnya lebih sulit, karena setiap saya melihat anak yang terbaring sakit, saya pasti ingat anak-anak saya di rumah. Tapi lama-kelamaan kembali terbiasa. Terbiasa melakukan tindakan pada anak yang menangis menjerit-jerit karena ketakutan atau kesakitan .. terbiasa menyampaikan berita buruk pada orangtua dari anak yang menderita sakit berat .. bahkan terbiasa menghadapi anak yang menghadapi kematiannya. Tapi jika menghadapi kerabat atau teman sendiri yang sedang sakit .. ternyata bisa beda. Saya masih belum bisa terbiasa mendengar berita teman yang saya kenal baik saat sehat dan kemudian menjadi sakit .. apalagi jika sakitnya cukup parah. Seperti saat kemarin saya menerima SMS yang mengabarkan seorang teman kuliah sedang dirawat karena penyakit sirosis hati, atau bulan lalu saat seorang teman kuliah menjalani operasi pengangkatan kanker, atau tahun lalu saat sepupu saya harus merelakan kepergian anaknya setelah berjuang dengan hidrosefalus selama 1,5 tahun. Emosi saya kembali muncul .. menyebabkan kebuntuan pikiran saya. Tapi banyak orang bilang .. sakit berat adalah salah satu bentuk ujian dari Allah. Seperti saat menengok kerabat yang sakit kanker laring pada usianya yang 40an weekend kemarin, seorang ustadz kebetulan datang dan memberikan pencerahan: Bapak sedang disayang oleh Allah .. diberikan ujian yang jika lulus dalam keadaan selalu bersyukur pada Allah .. Insya Allah akan menjadi jalan untuk menuju surga. Atau seperti perkataan seorang teman yang suaminya meninggal akibat kanker getah bening: Cobaan itu cuma bukti kecil kasih sayang Allah pada kita.. Dan Allah sesuai prasangka kita padanya...jadi cuma Dia tempat meminta. Subhanallah. And last but not the least: Al-Mu'minuun 62: On no soul do We place a burden greater than it can bear

Repost: Demam Berdarah Dengue - Short Review


Demam Berdarah Dengue - Short Review May 26, '08 8:54 AM. From Multiply. Pengantar: Ini cuplikan dari salah satu posting saya di milis lain. Daripada nulis dua kali, mendingan di-copy-paste aja kan? Virus dengue itu ada 4 tipe. Makanya kalo T**** sampe 3 kali kena, ya karena dia kena virus1,2, dan 3. Masih bisa satu kali lagi T*! Ups .. kidding. Btw .. T**** kamu teh tidak belajar dari pengalaman atuh bisa kena 3 kali. Emang PSN dengan 3M-nya tidak dijalankan ? :-) Harus dipahami bahwa infeksi oleh virus dengue itu bisa menyebabkan berbagai tipe penyakit: dari yang gak ada gejala sama sekali ( terinfeksi tapi tidak sakit apa2), ada yang demam cuma 1-2 hari (undifferentiated viral illness), ada yang jadi demam dengue (DD), dan ada yang jadi demam berdarah dengue (DBD). Untungnya hanya sekitar 3% saja infeksi virus dengue akan menjadi DBD. Jadi SEBAGIAN BESAR orang yang terinfeksi virus dengue hanya memiliki gejala yang ringan. Masalahnya, pada yang berkembang jadi DBD, ada sebagian yang bisa menjadi syok (DSS - dengue shock syndrome) dan jika tidak tertangani dengan baik, bisa menimbulkan kematian. Masalah berikutnya, bagaimana bisa membedakan DD dengan DBD ? DD dan DBD itu terdiri dari 3 fase: fase demam (2-7 hari), fase turun demam (atau disebut fase kritis/syok pada DBD) selama 24-48 jam, dan fase penyembuhan. Kalau masih di fase demam, kadang sulit membedakan DD dengan DBD, bahkan sulit dibedakan dari demam akibat virus lain. Cuma, begitu masuk fase turun demam, pada DBD terjadi kebocoran cairan dari pembuluh darah (pada DD, tidak ada kebocoran ini). Cairan itu pindah ke jaringan seperti rongga perut, rongga selaput paru, bawah kulit, dll. Jika cairan yang pindah jumlahnya banyak, akibatnya pembuluh darah jadi 'kosong', jadi syok. Kalau syok sudah terjadi dan tidak segera diisi cairan (dalam hal ini infus), bisa menyebabkan serangkaian kejadian dalam tubuh yang hasil akhirnya adalah perburukan keadaan (perdarahan, gagal ginjal, dll). Jadi kunci dalam tata laksana DBD adalah MENGENALI KAPAN TERJADINYA KEBOCORAN CAIRAN. Kepinginnya kan kita bisa mengenali DBD sejak dini (gak usah nunggu sampai syok). Ternyata sulit. Dengan sistem skoring (bener ya Goeh?) saja paling cuma meramalkan (gak tau ketepatannya) mana yang cenderung akan berkembang jadi berat. DBD ini sulit, karena sangat banyak terjadi overdiagnosis (semua demam dengan trombosit yang mulai turun cenderung di-DBD-kan, padahal belum tentu), meski juga sering underdiagnosis (tau-tau syok). Untuk itu WHO mengeluarkan panduan untuk mendiagnosis DBD: Klinis: - Demam 2-7 hari (biasanya tanpa disertai batuk-pilek berdahak) - Ada pembesaran hati (ini musti periksa ke dokter atuh) - Ada manifestasi perdarahan misalnya mimisan, gusi berdarah, bintik merah di kulit (atau minimal tes bendung/Rumple Leed positif, artinya abis ditensi trus ditahan 15 menit lalu timbul bintik-bintik di kulit) - Ada syok Lalu, untuk pemeriksaan laboratorium: - Ada trombositopenia (trombosit <100.000) - Ada hemokonsentrasi (= darah mengental akibat cairan pindah dari pembuluh darah ke jaringan). Ini yang sulit. Bukti hemokonsentrasi itu sulit dinilai jika baru satu kali memeriksa lab. Cuma untuk anak2, kalau hematokrit sudah di atas 40 sudah musti waspada. Tapi tidak berarti hematokrit >40 itu sudah tinggi, tergantung nilai standar hematokrit si anak biasanya. Bukti lainnya adalah adanya cairan di rongga selaput paru pada foto rontgen, kadar protein darah yang rendah, dll. Menurut WHO, 2 dari 4 kriteria klinis ditambah 2 kriteria laboratorium, cukup untuk mendiagnosis DBD. Lalu, untuk konfirmasi diagnosis, bisa diperiksa IgG/IgM anti dengue atau dengue blot. Pada kenyataannya, kriteria WHO tadi juga gak gampang untuk menerapkannya. Jadi, tips dari saya menurut pengalaman singkat saya praktek: - Jika anak demam tanpa batuk pilek berdahak - Demam tinggi terus-terusan - Kadang disertai muntah & nyeri perut - Tinggal di daerah yang lagi banyak DBD Jika demam masih ada >48 jam (ada yang pake patokan >72 jam), pls see your doctor .. jika perlu lakukan pemeriksaan lab. Umumnya akan dinasihatkan kepada ortu untuk waspada tanda-tanda syok jika: - Saat turun demam anak malah jadi lesu dan lemah (sebagian besar anak kalo demam turun udah langsung loncat2 lagi) - Saat turun demam tangan dan kaki teraba dingin dan lembab - Ada nyeri perut (berbagai penelitian menghubungkan nyeri perut dengan kejadian syok) Pemeriksaan trombosit belum menunjukkan penurunan jika dilakukan hari ke-1-2 demam, masih normal. Mulai hari ke-3 biasanya baru kelihatan. Jika trombosit mulai turun mendekati 100.000, hematokrit mulai naik, sebaiknya periksa lab ulang untuk melihat apakah trombosit tambah turun dan hematokrit tambah naik. Sebagian dokter (dan ortu) akan meminta untuk dirawat. Sebenernya sih ini demi keamanan pasien aja (dan dokternya tentu). Dengan perawatan, minimal bisa dipantau hematokrit, tekanan darah dan tanda-tanda syok lainnya. Sampai kapan dirawat ? Sampai lewat fase kritis/turun demam. Jadi, jangan minta dirawat pada hari pertama demam ya. Saat dirawat musti diapain ? Paling diinfus. Tidak perlu obat apapun kecuali obat penurun demam. TIDAK PERLU ANTIBIOTIK. TIDAK PERLU ANTIVIRUS.

Repost: Reuni ..


Reuni .. May 5, '08 9:28 PM. From Multiply. Tahun ini saya mendengar banyak sekali rencana reuni. Dulu saya gak tertarik ikutan reuni. Ada reuni SMA, SMP, kuliah .. gak pernah dateng. Males banget. Tapi sejak saya mulai bergabung dengan komunitas teman seangkatan .. kok seneng ya ? Bertukar berita dan ngobrol di milis maupun YM, liat foto2 di friendster, sampe 'kopdar' alias ketemu langsung. Dari komunitas SMA, lalu juga komunitas kuliah S1. Beda komunitas tentu beda isinya. Tapi sama menyenangkannya. Di komunitas SMA banyak sekali teman 'baru' alias dulunya gak kenal tapi sekarang jadi akrab di milis. Gak nyangka .. mereka sangat fun, smart, dan sukses dengan karirnya masing-masing. Meski sukses, tapi tetap ramah dan masih 'gila'. Di komunitas kuliah, lebih banyak seriusnya. Kalo melemparkan joke di milis .. gak ada yang menanggapi :-( Garing-suraring. Jaga image karena sekarang statusnya ada yang atasan dan ada yang bawahan ? May be yes .. may be not. Komunitas SMA merencanakan reuni bulan Agustus 2008. Persiapan sudah dilakukan jauh2 hari. Panitia sudah ada, sudah sering rapat, sudah mulai menggalang dana, program kegiatan sudah disusun. Hebat. Teman yang bermukim di luar negeri sudah booking tiket pulang jauh-jauh hari. Luar biasa. Komunitas kuliah merencanakan reuni akbar tahun 2010. Tapi sebelumnya didahului oleh reuni kecil-kecilan. Salah satunya dilakukan tanggal 4 Mei kemarin. Seru juga, ketemu teman lama. Ada yang masih tetap tidak berubah (di antaranya ada pasangan suami istri yang belum dikaruniai putra, mereka masih sama persis seperti jaman pacaran dulu), tambah kasep+ganteng (haha .. kalo co sudah mapan jadi terlihat kasep kah ? ), tambah cantik (gak ada yang nyangka profesinya dokter deh .. lebih cocok jadi presenter), tambah kurus (yang ini karena lagi sekolah ?), dan tambah makmur ( bahasa halus untuk gemuk .. kategori ini yang lebih banyak, termasuk saya :-D). Lalu .. suami dan kakak2 saya sedang sibuk dengan reuni SMP-nya. Hampir tiap bulan ada kegiatan, jadi bolak-balik ke Bandung. Heboh banget. Buat kaos lah .. foto rame2 di Jonas, sepeda santai, dll. Yang terhebat .. ibu saya ikut-ikutan demam reuni. Bersama teman2 seangkatannya yang notabene sudah menjadi oma/nenek .. mereka reuni bersama, bahkan ada napak tilas ke kampusnya. Kebayang gak .. ibu saya yang menderita osteoartritis, mengeluh lututnya sakit, harus naik-turun tangga mengunjungi ruang kuliahnya dulu. But she did it! Demi reuni, jangankan lutut sakit .. penerbangan lintas benua hanya untuk ikut reuni pun bakal dijabani !

Repost: Bad day


Bad day May 5, '08 7:41 AM From Multiply. Hari ini .. bisa dibilang my bad day. Berawal dari penuhnya travel yang membawa saya pulang ke Jakarta. Dari kemarin mobil yang jam 04.00 - 09.00 sudah fully booked. Jadi jalan satu-satunya saya harus langsung datang untuk mendaftar jadi waiting list, berharap mudah2an ada yang batal berangkat. Sengaja saya datang pukul 3.30 AM. Harapan saya ada orang yang terlambat bangun sehingga ketinggalan mobil (jahat yaa ..). Ternyata niat jahat memang gak pernah berhasil. Sudah ada 14 orang yang sudah mendahului saya di sana. Orang ke-14 berhasil naik mobil yang pukul 04.30, sedangkan saya baru berhasil terangkut di mobil pukul 05.00. Bisa diduga, dua jam kemudian setiba di Bekasi-Pondok Gede, lalu lintas sudah sangat padat, cenderung merayap. Huh .. telat satu jam saja di Jakarta, bisa memberikan perbedaan kemacetan yang sangat signifikan. Alhasil saya baru tiba di rumah pukul 8.15. Mandi sebentar (hehe .. Bandung jam 3 pagi masih sangat dingin .. ), langsung berangkat lagi. My second bad luck .. pagi itu saya harus mampir ke MK untuk memeriksa bayi. Sebelumnya, setengah berharap, saya menelfon kamar bayi untuk menanyakan rencana kepulangan si ibu. Mudah2an Obgyn-nya baru memulangkan si Ibu besok, sehingga saya bisa mampir ke MK sore hari. Ternyata, pasiennya akan pulang siang ini juga. Jadi, saya harus menghabiskan waktu satu jam menuju Kemayoran, sebelum bisa mencapai Slipi. My third bad luck .. HP saya pagi itu gak berhenti berdering. Wuah .. sampai phobia mendengar ringtone yang saya pasang deh. Dari pasien yang menanyakan jam praktek .. dari perawat ruangan yang menanyakan jam berapa saya visit, karena ada pasien yang complain gara2 masih belum turun demamnya dan minta pulang paksa, dari perawat poli yang mengingatkan di poliklinik sudah ada pasien, .. dan .. dari Boss yang mau menitip pasien karena beliau ada keperluan. Terbuka lah sudah bahwa hari ini saya terlambat datang ke RS .. padahal biasanya hari Senin adalah hari tenang saya karena sangat jarang ada orang yang mencari saya hari Senin (tidak ada pasien, tidak ada poliklinik). My fourth bad luck .. pasien di ruangan bener-bener pulang paksa. Bahkan sebelum saya sempat memeriksanya. Paling sedih kalau ada pasien pulang paksa, entah karena tidak ada biaya, terlebih lagi kalau karena tidak puas terhadap pelayanan saya. Mudah-mudahan setiba di rumah anaknya ternyata jadi membaik. Setelah bad luck saya yang berturut-turut .. saya memutuskan menghibur diri sejenak. Ketemu teman-teman SMA di PS (sebelumnya mereka lunch bareng di PI, tapi akibat jadwal saya yang berantakan karena terlambat, jadi gak sempat gabung), hahahihi sebentar, lalu pindah ke Mal Ambassador, mencari2 cd software dan games, lalu baru pulang. Sekarang, baru terasa saya cape dan mengantuk.

Repost: Anak dari Balikpapan (1)


Anak dari Balikpapan (1) May 3, '08 8:00 PM From Multiply. Sudah lama tidak posting di blog .. keasyikan posting di milis SMA dan kuliah Minggu ini, dapet kasus menarik lagi. Inilah mengapa saya betah di RS tempat saya bekerja sekarang (despite of the salary :D). Beragam kasus menarik datang kesini, membuat saya senantiasa memutar otak. Bukan sekedar kasus batuk-pilek-beringus, hehe... Pasien ini datang dari Balikpapan, anak laki-laki umur 5 tahun. Sejak usia 3 tahun dia mengalami demam tinggi. Setiap demam, biasanya berlangsung 5 hari-an, tanpa batuk-pilek. Setiap demam, biasanya diikuti kejang (dia punya kejang demam juga). Ibunya tentu panik. Demam ini berlangsung TIAP BULAN. Saya ulangi: TIAP BULAN. Apa rasanya punya anak yang demam 39-40°C setiap bulan ? Ditambah kejang pula ? Wah .. undescribable. Karena panik, hampir setiap bulan anak ini dirawat. Setiap kali rawat, bisa sampai 10 hari. Kadang-kadang saja anak ini tidak dirawat (anaknya akan menangis meronta-ronta menolak untuk dirawat). Bisa dibayangkan apa yang didapat setiap dia dirawat ? Infus, antibiotik suntik, bermacam2 obat penurun demam .. belum berbagai pemeriksaan laboratorium. UNTUNGNYA .. ayah dari anak ini bekerja di perusahaan minyak yang kaya, yang bisa membayari pengobatan para karyawan dan keluarganya. Betul-betul membuat iri. Anak ini sempat dirawat di RS swasta di Bandung, atas permintaan keluarga, karena pengobatan di Balikpapan tidak membuat episode demamnya berhenti. Dokter di Bandung memeriksa uji kulit tuberkulin .. hasilnya 12 mm. Sebagaimana diduga, anak itu diobati obat anti tuberkulosis, selama 6 bulan. Menurut sang Ibu, dokter di Bandung mengatakan penyebab demam berulang itu adalah infeksi tuberkulosisnya. Apa yang terjadi ? Setelah 6 bulan diobati, demam masih terus berlangsung. Bagaimana dengan obat yang sudah diminum tadi ? Hmmmm ... Di luar demam, anak ini sehat. Tumbuh kembangnya baik, anaknya cukup cerdas. Saat membolak-balik lembaran-lembaran resume medis dan hasil laboratorium yang cukup tebal, sekilas saya baca mengenai gangguan emosi lebih. Apapula ini ? Duh, kasihan. Apakah perlu diagnosis seperti itu pada anak umur 5 tahun yang belum pintar mengungkapkan perasaannya? Perasaan kesal karena hampir setiap bulan sakit, hampir setiap bulan dirawat, disuntik, dijejali obat? Tidak perlu anak umur 5 tahun, saya sendiri pasti akan mengalami gangguan emosi sangaaaattt berlebih. Pemeriksaan yang sudah pernah dilakukan cukup lengkap. Biakan darah, urin, foto toraks, USG abdomen, pemeriksaan panel lupus (salah satu penyebab prolonged fever adalah lupus), sampai pemeriksaan CD4 dan CD8. Hm .. sudah berapa yang dihabiskan untuk berbagai pemeriksaan ini ( dan sudah berpuluh2 kali mungkin anak ini ditusuki oleh jarum suntik). Hasilnya tidak ada yang bermakna. Kadang sel darah putihnya naik sedikit, kadang persentase CD4 rendah, lupusnya negatif. Lain-lainnya unremarkable. Anak ini akhirnya dirujuk oleh dokter spesialis anak di Balikpapan ke direktur RS tempat saya bekerja yang juga sub-spesialisasi infeksi. Oleh beliau, anak ini dikonsultasikan pula ke KK (kelompok kerja) alergi-imunologi (tempat saya bekerja) dan KK syaraf. Jadilah hari itu, pasien yang baru datang dari Balikpapan, menghadapi tiga orang dokter yang berbeda. Sebelum mulai mewawancara (anamnesis), saya minta maaf dulu karena akan bertanya-tanya pada ibunya. ”Bu, saya mengerti kalau ibu bosan bercerita, karena pasti sudah banyak dokter yang bertanya-tanya terus mengenai penyakit anak ibu”. Saya selalu minta maaf seperti itu karena pernah menghadapi orangtua pasien yang mungkin jengkel karena dalam sehari ditanya pertanyaan yang ituuuu itu saja oleh para dokter yang dikonsultasikan oleh dokter yang merawat. Waktu itu si Ibu berkomentar (setengah menghardik) : ”Dokter gak bisa liat catatan medis anak saya saja ya?”. Walaaah .. kalau boleh cuma membaca catatan medik sih saya akan senaaaaanggg sekali, menghemat tenaga dan pikiran. Tapi kan bukan seperti itu cara kerja dokter. Untung ibu pasien ini sangat kooperatif. Dia hanya menyatakan tidak keberatan, yang penting penyakit anaknya ketahuan. Halah .. ini yang sulit. Sudah dua tahun seperti ini, sudah berulangkali masuk rumah sakit, sudah berapa biaya yang dihabiskan, dan .. rasanya beban yang berat ditimpakan pada pundak saya (huh ... hiperbol sekali, sebenarnya kan saya cuma dikonsul saja). Setelah anamnesis yang cukup lama, menulis yang cukup detil, saya memeriksa anak itu dengan seksama. Satu-satunya masalah yang masih saya jumpai saat itu adalah adanya sariawan di mulut. Lain-lainnya normal. Sariawan itu menarik perhatian saya. ”Sejak kapan anak ini sariawan, Bu?”. ”Sejak mulai sakit itu, dok. Sering sekali kambuh, sampai kadang makannya sulit.” Lain dari itu, semuanya baik. Gizinya cukup, anaknya cukup aktif (aktif sekali malahan, karena dia sibuk mengeksplorasi tempat cuci tangan, perabotan kedokteran, dan mainannya sendiri). Saya meminta beberapa pemeriksaan laboratorium untuk menyingkirkan kemungkinan adanya gangguan kekebalan tubuh (imunodefisiensi) yang menyebabkan dia sangat rentan sakit. Selain itu, saya ulang pemeriksaan lupus, dan menambahkan pemeriksaan serologi toxoplasma dan CMV. Actually I have no idea what should I look for, so I order some tests to rule out this and that. Langsung deh mata saya berkunang-kunang. Bukan karena saya belum makan padahal saat itu sudah jam tiga sore, tapi karena saya merasa bodoh sekali karena have no idea at all selain memikirkan imunodefisiensi dan lupus. Sesampainya di rumah, segera saya buka komputer, saya googling, highwiring (hehe, maksudnya buka websitenya highwire), mdconsulting, .. ubek-ubek deh judulnya. Saya coba cari infeksi toxo dan CMV, autoimmune, lupus, sampai tiba-tiba .. tek .. mata saya melihat satu judul artikel: PFAPA, dalam deretan artikel dengan keywords recurrent fever. Saya baca sekilas, kok mirip dengan pasien ini. Yang membuat saya tertarik adalah statement adanya aphthous stomatitis (alias si sariawan) dan good health between episodes. Persis anak ini. Saat saya periksa (saat itu dia lagi gak demam alias sehat), dia sehat luar biasa. Langsung saya cari lagi artikel2 PFAPA yang lain, sampai malah sempat subscribe ke milis PFAPA (hebat euy .. ada milisnya segala). Saya hampir 50% yakin anak ini menderita PFAPA. Gak berani mendekati 100%, karena masih harus menunggu hasil pemeriksaan laboratorium yang masih satu minggu lagi (duh .. rasanya lamaaaaa sekali), dan sialnya (eh .. unfortunately .. kalo diterjemahkan kok gak enak kalo jadi sial, mustinya jadi sayangnya ya, hehe) PFAPA ini diagnosis eksklusi, hanya berdasarkan kriteria klinis. Mirip dengan Kawasaki disease. Jadi kalo kita sudah menyingkirkan kemungkinan yang lain, baru boleh mendiagnosis PFAPA. Lebih sialnya (ini lebih tepat sih), belum ada pengobatan yang bisa menghentikan episode PFAPA. Meski tidak berbahaya alias tidak ada gejala sisa, tapi PFAPA ini bisa berlangsung bertahun-tahun (bisakah kita bayangkan masih bertahun-tahun lagi melihat anak demam tinggi tiap bulan?). Kawasaki disease, meski obatnya mahal (seharga motor kawasaki), tapi bisa dihentikan progresivitasnya. Huh .. sulit juga ya. Seperti mendapat durian runtuh karena akhirnya punya ide penyakit anak ini. Tapi kok penyakitnya gak enak ya? Well .. nanti disambung lagi ya, kalau memang diagnosis PFAPA atau bukannya sudah tegak. Medicine is art. Not every disease has its explanatory cause. Sometimes we only got 'undiagnosed cause'. Reference John CC, Gilsdorf JR. Recurrent fever in children. Pediatr Infect Dis J, 2002;21:1071-80. Thomas KT, Feder HM, Lawton AR, Edwards KM. Periodic fever syndrome in children. J Pediatr 1999;135:15-21.